Love Letter to You, Called: Boyfriend?

Leave a Comment
Belum juga bertanya, aku telah menemukan jawab atas pertanyaan tersebut. Gimana sih rasanya kangen sama seseorang yang jauhhhh di luar sana, yang nggak jelas statusnya, CINTA MATI #catet itu! BUT yang dikangenin nggak ngerasa sama sekali, hanya menganggap kita kawannya yang baik banget, punya pundak gratis yang siap dibagi kapan pun (24/7 kalee), dan siap jadi tong sampah tempat memuntahkan segala rupa uneg-uneg yang mungkin kita pun eneg dengernya lantaran re-play mulu #misuh-misuh. Risiko, dah!

Kali ini, yang namanya kangen yang membuncah, terjadi padaku. Aku yang biasanya bisa menguasai perasaan hatiku lama-lama dibikin nyesek juga. Pengin teriak tapi takut disangka orang gila. Pengen ngaku, ngaku sama siapa? Pengin bilang cinta? Kok sasaran tembaknya masih abu-abu gitu. Well, jadilah saya seorang yang galau memendam rindu. Oh, nikmatnya dunia!

Aku pun merasakan apa yang dirasakan sama tetangga, yang berdasar status Facebooknya, dia galau, kangen berat sama yayangnya (oops, ketahuan keponya) sampai sakit (nggak tahu juga sih sebenernya, sakitnya karena memendam rindu atau karena faktor lain hehehe). Tapi, paling nggak, aku bisa menyimpulkan: “Oh, begini, ya, rasanya ngampet kangen.” Yaa, begitulah, pada akhirnya, manusia yang satu ini mencapai batas kekuatannya menahan rindu. Untunglah, side effectnya nggak sampai segitunya. Karena aku bertemankan logika!

12-5

Leave a Comment
"What Keeps Me Going is Goals"
Muhammad Ali
Takkusangka peristiwa hari ini menyeruak begitu saja, menyesak lintasan kehidupan yang dibangun nyaris 3 dasawarsa. Kaget. Mengapa aku bisa melakukannya. Kejadian yang dulu, saat ‘ku kecil, beranjak remaja, bahkan mula pertama bersalin sebagai seorang dewasa tak pernah terpikir sedikit pun. Dan, hari ini, pena sejarah menggores keras pada kertas hidupku. Dengan mangsi hitam nan pekat. Menyurat kisah yang bagi orang lain mungkin biasa tapi bagiku luar biasa. Hidup yang sebelumnya berjalan mulus, perlahan berubah seiring berputarnya roda kehidupan. Membuatku yang tiada berbekal berpikir sekreatif mungkin guna bisa bertahan. Demi cita-cita ‘kan menjelma. Hasilnya adalah: 12-5

Semalam. Bukan malam yang menyenangkan. Bukan pula hal yang bersifat tiba-tiba jika aku berencana di tengah kekalutan yang mendera. Ya, UANG, membuat seorang aku berpikir sampai ke titik ini. Merombengkan lembar-demi-lembar pakaian yang telah menutupi tubuhku demi sebuah kehormatan dan pemenuhan asas kemanusiaan. Pakaian yang telah melengkapi penampilanku hingga layak berkelana di dunia luar.

Haru dan Aku: Haru Haru

Leave a Comment
Suatu hari, ketika membuka akun Twitter, di kotak who to follow, ada Twitter @penerbitharu. Oh, ada, ya, Penerbit Haru? Belum pernah dengar nama penerbit yang namanya berbau kosakata Bahasa Jepang atau Korea ini. Penasaran, kepolah saya: follow akun Twitter, nge-add akun Facebook, mengunjungi website serta blog Haru untuk berburu informasi. Eh, ternyata saya pernah membaca salah satu buku terbitan Haru yakni “SeoulVivor” karya Lia Indra Andriana & Tatz dan ada satu buku yang masuk ke dalam catatan buku yang bakal dibeli: “4 Ways to Get a Wife” karya Hyun Go Wun. “SeoulVivor”, buku pertama yang kubaca, menjadi awal mula terjalinnya interaksi antara Haru dan aku. Yang berawal dari ketidaktahuan.

"SeoulVivor", Buku Pertamaku








“SeoulVivor” yang berkisah tentang jalan-jalan seru ala 2 K-popers (jika ditambah Meli jadi 3 orang) ini betul-betul bikin mupeng. Bagaimana tidak, Lia Indra Andriana & Tatz menulis berdasar pengalaman yang dikecap sendiri, bukan sekedar mengumpulkan materi dari berbagai sumber. Ditambah foto-foto hasil jepretan on the spot yang membuatku makin kepengin menginjakkan kaki di Korea Selatan sesegera mungkin untuk merasakan sensasi berkelana di negara yang masih menjunjung tinggi budaya tradisionalnya di tengah gencarnya arus modernisasi.