Haru dan Aku: Haru Haru

Leave a Comment
Suatu hari, ketika membuka akun Twitter, di kotak who to follow, ada Twitter @penerbitharu. Oh, ada, ya, Penerbit Haru? Belum pernah dengar nama penerbit yang namanya berbau kosakata Bahasa Jepang atau Korea ini. Penasaran, kepolah saya: follow akun Twitter, nge-add akun Facebook, mengunjungi website serta blog Haru untuk berburu informasi. Eh, ternyata saya pernah membaca salah satu buku terbitan Haru yakni “SeoulVivor” karya Lia Indra Andriana & Tatz dan ada satu buku yang masuk ke dalam catatan buku yang bakal dibeli: “4 Ways to Get a Wife” karya Hyun Go Wun. “SeoulVivor”, buku pertama yang kubaca, menjadi awal mula terjalinnya interaksi antara Haru dan aku. Yang berawal dari ketidaktahuan.

"SeoulVivor", Buku Pertamaku








“SeoulVivor” yang berkisah tentang jalan-jalan seru ala 2 K-popers (jika ditambah Meli jadi 3 orang) ini betul-betul bikin mupeng. Bagaimana tidak, Lia Indra Andriana & Tatz menulis berdasar pengalaman yang dikecap sendiri, bukan sekedar mengumpulkan materi dari berbagai sumber. Ditambah foto-foto hasil jepretan on the spot yang membuatku makin kepengin menginjakkan kaki di Korea Selatan sesegera mungkin untuk merasakan sensasi berkelana di negara yang masih menjunjung tinggi budaya tradisionalnya di tengah gencarnya arus modernisasi.
 Ngomongin soal Penerbit Haru, ada 3 hal yang membuat penerbit yang berkiblat pada karya berlatar Korea dan Jepang ini punya identitas: cover, logo, karakter. Covernya yang unyu. Buku bercover unyu biasanya diperuntukkan bagi buku anak-anak untuk menarik minat baca mereka. Namun, akhir-akhir ini cover unyu juga diperuntukkan bagi buku-buku yang menyasar segmen remaja hingga dewasa. Nggak salah, sih, karena ada book lover yang membeli buku dengan melihat design covernya terlebih dulu. Witing tresna jalaran saka cover. Jika dianalogikan, kira-kira begitu. Dengan menampilkan cover unyu, bisa menarik perhatian calon readers untuk mencomot dari rak toko buku.
Bagi pembaca, penikmat buku-buku terbitan Haru, mungkin logo ini sudah familiar. Sepintas bentuknya mirip cangkang kerang berwarna merah dengan tulisan “haru” di sisi bawah. Identitas publisher yang satu ini cukup mini sehingga pembaca (baca: saya) perlu mendekatkan mata untuk membaca tulisan “haru” yang mungil. Pada buku “SeoulVivor”, Si Kerang Merah ini berada di cover belakang sebelah kiri bawah dan bagian bawah punggung buku. Hmmm, apa karena bentuknya yang cilik, lantas membuat mata saya selip? 


Si Kerang Merah dan Little Devil yang Dimaksud



Nah, ini dia yang menimbulkan rasa penasaran. Makhluk apakah ini?? Generally, penampakannya seperti little devil dengan ciri-ciri bertaring, bertanduk, kuping mirip piggy, rambutnya seperti sekumpulan kapas yang ditempel di atas kepala, dan mengenakan pakaian model kimono. Penasaran banget sama karakter yang satu ini. Di buku “SeoulVivor”, karakter tersebut muncul berkali-kali: pada cover depan, halaman pergantian topik pembicaraan, dan kupon. Saya juga menjumpai pada laman http://www.penerbitharu.com/ dengan penampakan yang sama. Soo curious
Biarpun baru berdiri awal 2011 silam, Haru telah menjadi rahim bagi karya-karya fiksi maupun non fiksi yang siap dilahirkan untuk memuaskan dahaga para penyuka budaya pop Jepang dan Korea Selatan. Pun, melalui “SeoulVivor”, Haru telah mengisi hari-hari saya yang giat bermimpi menjejakkan kaki ke Korea Selatan.
Bukan perkara mudah berdiri di antara sekian banyak kompetitor yang bertekun di bidang yang sama. Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit dibanding meraih. Butuh spirit yang kuat dan kemauan untuk membaca suara. Event “Aku (ter)Haru: antara Aku dan Haru” menjadi momen yang tepat bagi Haru untuk membaca suara-suara yang peduli terhadap Haru. Salah satunya adalah saya yang ingin berbagi sedikit catatan mengenai harapan dan masukan bagi Haru.
Harapan terbesar yang mudah-mudahan bisa diwujudkan adalah Haru mengadakan workshop penulisan untuk memfasilitasi para penulis di Indonesia yang ingin meningkatkan dan mengembangkan keterampilan menulis di bidang fiksi maupun non fiksi. Sedangkan masukan untuk Haru adalah:
1. Si Kerang Merah. Eh, maksudnya logo brand-nya Haru. Jujur, awalnya saya tidak tahu sama sekali kalau “SeoulVivor” adalah buku terbitan Haru. Mengapa? Logo publishernya mini abis! Si Imut ini tenggelam di antara kemeriahan design cover. Masukan saya, letakkan Si Kerang Merah di tempat yang mudah dilihat. Yakin deh, Si Kerang Merah bakal makin imut bertengger di tempat yang strategis. Sekaligus ngasih tahu pembaca: “Ini lho buku terbitan Haru”. Bangga, kan?
2. Website dan blognya dilengkapi, terutama bagian “Tentang Kami” yang minim informasi. Sebagai orang luar, saya ingin mengenal Haru lengkap sampai akar-akarnya ha-ha-ha. Untuk blog, kok posting terakhir masih Januari? Kan bisa diisi informasi yang berkaitan dengan Haru, Jepang, Korea, info seputar buku, artikel penulisan, dan info menarik lainnya. Bahas Si Little Devil juga boleh hahay. Sepanjang masih memiliki benang merah dengan visi-misi Haru, why not?
3. Haru Book Party
         Event yang diselenggarakan untuk berinteraksi dengan Penerbit Haru: buku-buku terbitan Haru, para author Haru, dan seluruh keluarga besar Haru. Pada acara ini kita bedah habis-habisan buku-buku terbitan Haru, membuat resensi barengan, sampai diskusi soal dunia perbukuan. (Kapan nih?)
           Demikian review tentang Haru. Semoga makin banyak karya luar biasa yang lahir dari rahim Haru. Semoga pula aku bisa segera mengadopsi “4 Ways to Get a Wife” nya Hyun Go Wun he-he-he.

Peri yang Baik Hati, Kabulkanlah Permintaanku...



        

0 komentar:

Posting Komentar