STREET FOOD: KISAH KULINER JALANAN

2 comments


Interaksi yang terjalin 

Siapa, sih, yang nggak suka jajan di pinggir jalan? Menikmati makanan murah meriah sambil duduk-duduk santai, ngobrol ngalor-ngidul dengan penampilan yang jauh dari kata jaim alias jaga image: celana pendek, T-shirt, plus sandal jepit. Ya, street food tidak pernah menuntut penampilan necis tiap individu tatkala berinteraksi dengannya. Mau tampil rapi, ayo. Mau acak-acakan, mangga. Yang penting, chemistry terbangun lewat suapan makanan.

Budaya makanan pinggir jalan tersebar di berbagai negara di dunia. Masing-masing negara mengusung makanan yang berciri khas setempat. Tengoklah jajanan kaki lima di Korea Selatan, Jepang, China, Turki, Maroko, Prancis, Thailand, maupun Singapura. Mereka membangun kerajaan kuliner yang menjanjikan kenyam-nyaman bagi siapa pun.



Aneka Pilihan Street Food
Sumber: http://www.femina.co.id/support/image.others/01/1252/imageBlog

Nggak usah jauh-jauh ke negeri seberang, kita dapat menemukan street food di Yogyakarta. “Kota Gudeg” ini mengoleksi makanan pinggir jalan yang bervariasi. Mulai makanan klasik, peranakan hingga kreasi baru yang dibuat guna meramaikan jagad kuliner jalanan. Merangsek memengaruhi lidah masa kini dan bersanding dengan jajanan lawas yang telah memiliki penikmat setia. 

Mengayun Langkah Bersamamu

2 comments
Dilahirkan sebagai seorang perempuan membuat saya merasa amat sangat beruntung karena bisa merasakan pengalaman mengeksplorasi aneka woman footwear. Jenis yang bervariasi mulai dari kitten heels, moccasin, peep toe, platform, pump, sling back, stiletto, wedges, oxford, mary jane, ballerina, sneaker, hingga boot ditambah model yang terus berkembang turut membuka kesempatan sekaligus memancing kreativitas si pemakai.


“I Love being a Woman. I Like Dressing up; I Love Buying Shoes.”
Carly Fiorina
Pengalaman hunting footwear seringkali meninggalkan kesan sensasional dan menantang. Untuk menemukan sepasang sepatu yang enak dipakai misalnya, perlu extra time untuk ngubek-ubek toko sepatu, dari yang berlokasi di pinggir jalan sampai gerai di mall. Untuk ritual yang satu ini, saya memilih untuk hunting sendiri tanpa mengajak siapa pun. Alasannya? Biar nggak diganggu orang-orang yang justru bikin mood saya turun ke level paling dasar.