STREET FOOD: KISAH KULINER JALANAN

2 comments


Interaksi yang terjalin 

Siapa, sih, yang nggak suka jajan di pinggir jalan? Menikmati makanan murah meriah sambil duduk-duduk santai, ngobrol ngalor-ngidul dengan penampilan yang jauh dari kata jaim alias jaga image: celana pendek, T-shirt, plus sandal jepit. Ya, street food tidak pernah menuntut penampilan necis tiap individu tatkala berinteraksi dengannya. Mau tampil rapi, ayo. Mau acak-acakan, mangga. Yang penting, chemistry terbangun lewat suapan makanan.

Budaya makanan pinggir jalan tersebar di berbagai negara di dunia. Masing-masing negara mengusung makanan yang berciri khas setempat. Tengoklah jajanan kaki lima di Korea Selatan, Jepang, China, Turki, Maroko, Prancis, Thailand, maupun Singapura. Mereka membangun kerajaan kuliner yang menjanjikan kenyam-nyaman bagi siapa pun.



Aneka Pilihan Street Food
Sumber: http://www.femina.co.id/support/image.others/01/1252/imageBlog

Nggak usah jauh-jauh ke negeri seberang, kita dapat menemukan street food di Yogyakarta. “Kota Gudeg” ini mengoleksi makanan pinggir jalan yang bervariasi. Mulai makanan klasik, peranakan hingga kreasi baru yang dibuat guna meramaikan jagad kuliner jalanan. Merangsek memengaruhi lidah masa kini dan bersanding dengan jajanan lawas yang telah memiliki penikmat setia. 


Adalah wedang ronde, burjo (bubur kacang ijo), jaipong, sate kere, putu, klepon, cenil, lupis, onde-onde, molen, tiwul, gathot, pukis, martabak, terang bulan (nama lain martabak manis), leker, lumpia, siomay, lotis, rujak, gorengan, aneka godhogan (kacang godhog, pisang godhog, kedelai godhog), gudhangan merupakan sederet contoh kuliner jalanan yang banyak dijajakan di Yogyakarta. Ditambah kehadiran angkringan yang menawarkan sega kucing dan keluarga besarnya yang ngangeni. Menjadi klangenan bagi yang telah lama meninggalkan kampung halaman. Mencecap nikmat dalam kebersahajaan.

Penganan Putu, Salah Satu Jenis Street Food
Sumber: http://bhellabhello.files.wordpress.com/2012/01/291220111177.jpg



Street food di Yogyakarta dapat dijumpai di mana saja. Ada yang menyendiri, ada pula yang mengelompok dalam satu kawasan. Malioboro dan Jalan Urip Sumoharjo yang lebih dikenal dengan Jalan Solo merupakan kantung street food di Yogyakarta. Di kedua kawasan tersebut, bisa ditemukan aneka jajanan kaki lima. Makanan “berat” juga banyak. Tinggal pilih sesuai selera.

Geliat kuliner jalanan mulai terasa pada sore hari menjelang malam. Para pedagang yang umumnya bermodalkan gerobak dorong, peralatan memasak, dan lampu penerangan seadanya mulai menggelar dagangan. Makanan dimatangkan di tempat atau tinggal diracik saat pembeli datang.

Yap! street food enaknya dimakan langsung di tempat. Bahasa Jawanya ngiras yakni makan di tempat. On the spot. Bisa lesehan atau duduk di tempat yang telah disediakan. Di pinggir jalan. Di situlah letak seni kuliner pinggir jalan. Kalau saya sih, begitu menemukan jajanan pinggir jalan yang menggugah selera, langsung yang namanya jaim saya buang jauh-jauh. Dan saya pun menikmati jajanan nyam-nyam itu sambil duduk di pinggir jalan, nyampur sama orang yang lalu-lalang.

Oh, iya, saya punya pengalaman pas jajan lumpia di Jalan Solo. Lumpia rebung yang enak membuat saya tidak sabar untuk mencicip. Nah, sambil menunggu lumpia goreng pesanan matang, tanpa buang waktu, saya langsung order sama penjualnya 1 lumpia basah. Haapp, langsung, deh, lumpianya dimakan di tempat.

Street Food vs Kebersihan
Dewasa ini street food telah menjadi bagian penting kehidupan perkotaan. Bergesernya tradisi makan di rumah menjadikan street food mengalami perkembangan. Lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga turut terdongkrak dari bisnis informal pemenuhan kebutuhan pangan tersebut. Namun, yang menjadi pokok perhatian adalah soal keamanan pangan yang tentu saja tidak boleh diabaikan. Kebersihan dan kesehatan makanan wajib dikedepankan oleh para penjaja makanan jalanan siap saji (ready-to-eat) ini. Bagaimana perasaan kalian jika makanan yang digemari, enak, plus murah ternyata tidak cukup aman dan sehat untuk dikonsumsi?

Sayang rasanya jika harus mencoret street food kesukaan dari daftar makanan wajib beli, gara-gara isu kebersihan dan kesehatan pangan. Saya pribadi tidak ingin kesehatan menjadi taruhan karena 2 faktor yang diabaikan. Apa yang bisa dilakukan? Jawabannya: jadilah konsumen bijak yang aware terhadap makanan yang akan dikonsumsi. Caranya?
 
  1. Konsumsi makanan sehat yang mengandung gizi seimbang. Pilih yang berbahan sayur atau buah,
  2. Pilih makanan yang bersih penyajiannya,
  3. Perhatikan makanan yang dijajakan; apakah minyaknya telah berkali-kali digunakan sampai warnanya menghitam, warna makanan mencolok dan seragam, es-nya dibuat dari air mentah. Jika kurang menyakinkan, lebih baik urungkan niat untuk membeli,
  4. Pilih tempat makan yang bersih. Si Penjual tidak nongkrong di dekat tempat sampah, dekat selokan yang terbuka, atau di tempat yang jorok,
  5. Pilih makanan yang tertutup, misalnya: tertutup plastik, diletakkan di dalam rak kaca, atau ditutupi tudung saji. Jika terpaksa membeli makanan yang terbuka, pilih yang berada di level ke-2 dan seterusnya, bukan yang berada paling atas (untuk makanan yang disajikan bertumpuk). Hal ini untuk meminimalisasi kuman yang menempel pada makanan.
  6. Minta japitan untuk mengambil makanan. Kalau penjual tidak menyediakan japitan, minta kantung plastik bening. Bungkus tangan anda dan ambil makanan. 
  7. Jadilah pembeli yang berani. Berani menegur penjual jika ia mengindahkan kebersihan.
    Saya pernah menegur tukang bakso langganan supaya dia mencuci tangan dan mengelap kemudian sebelum melayani pesanan saya. Why? Dia habis pegang duit! As simple as that! Tapi, menegurnya baik-baik, ya...
  8. Bawa alat makan sendiri.
    Saya dan keluarga membiasakan diri membawa alat makan pribadi jika ingin membeli bakso langganan daripada memakai alat makan yang disediakan oleh penjual. Kita nggak pernah tahu siapa saja yang memakai alat makan tersebut dan apakah mereka sehat, kan? Nah, daripada berhadapan dengan risiko, lebih baik dicegah saja.

Street food: Kisah ini milik kita 

Setelah dag-dig-dug dengan urusan keamanan pangan. Mari bernostalgia dengan street food untuk mengurangi tegang hehehe. Tiap kali jalan-jalan, entah itu ke Malioboro, Jalan Solo, Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan atau ke luar kota seperti Jakarta atau Bandung, street food menjadi tujuan. Jajanan pinggir jalan yang simple dan murah meriah ini begitu menggoda.

Street food tidak hanya sekedar menjawab lapar semata. Di dalamnya tersemat kisah yang membuat orang ingin kembali. Kembali bersua. Kembali merasakan. Apakah di antara teman-teman ada yang kepingin banget menikmati jajanan yang hanya dijual di kampung halaman? Kalau pun dijual di tempat tinggal anda sekarang, rasanya sudah jauh dari cita rasa aslinya? Nah, ini dia. Street food sebagai ajang nostalgia. Libur hari raya biasanya dijadikan sarana penumpah rindu bagi lidah lokal yang bermigrasi. Membeli jajanan yang bikin terkenang-kenang sampai ngeces hihihi.

Bisa jadi, dalam sebentuk jajanan berharga minimal tersimpan kenangan yang takternilai harganya. Bagi anda, yang telah meninggalkan kampung halaman, acapkali menuai kangen dengan makanan yang menjadi santapan tiap hari. Yang pernah dibeli zaman sekolah dulu bareng teman-teman atau menjadi favorit masa-masa pacaran.

Saya pun teringat dengan sanak saudara yang merantau dan tinggal jauhhh di luar Yogyakarta. Mudik menjadi saat paling menyenangkan. Tidak hanya berkumpul dengan keluarga, tetapi sekaligus saat untuk memuaskan lidah yang menahan rindu akan makanan kesukaan yang hanya ditemukan di kampung halaman. Sebutlah tempe koro, tempe benguk, gudeg, bakso langganan, lumpia, jajan pasar adalah makanan yang wajib dijajal saat pulang kampung. Belum afdol rasanya mudik tanpa mencicipi makanan saat masih tinggal di Yogyakarta, di sebuah kampung nan sederhana. Nostalgia pun diam-diam menyelusup di antara. Hmmm, lewat kuliner, terentang kisah masa lalu yang panjang rupanya.

Masing-masing merangkum kisah lewat street food: aku, kamu, kita.




Referensi:
1.Isyana Atiningmas, Destinasi Street Food Dunia, http://www.femina.co.id/waktu.senggang/jalanjalan/destinasi.street.food.dunia/006/003/65, Download: 29 April 2013, Jam 13: 29
2.Arfiani, Asian Street Food, http://id.openrice.com/jakarta/restaurant/article/detail.htm?article_id=1481, Download: 29 April 2013, Jam 13: 39
3.Food Safety and Quality: Street Food, http://www.fao.org/food/food-safety-quality/a-z-index/street-foods0/en/, Download: 29 April 2013, Jam 14: 38
4.Food for the Cities: Street Foods, http://www.fao.org/fcit/food-processing/street-foods/en/, Download: 29 April 2013, Jam 14: 41
5.Keamanan Makanan Jajanan: Upaya Perbaikan, http://belajar.kemdiknas.go.id/index5.php?display=view&mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Pengetahuan%20Populer/view&id=181&uniq=1478, Download: 29 April 2013, Jam 15: 07
6.Fitri Prawitasari, Tips Membeli Jajanan di Pinggir Jalan, http://travel.kompas.com/read/2013/01/22/19193634/Tips.Membeli.Jajanan.di.Pinggir.Jalan, download 29 April 2013, Jam 15: 13 WIB









2 komentar:

  1. penikmat street food yang higienis ya? hihihihiii.... aku 180 derajat kebalikannya deh, sufer kemfrooohh :D aku suka itu sate kere, plus mie apa ya yg dijual di samping mbering itu, yang kenyal liat itu loh...

    good luck ya untuk ngontesnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak juga :D, soalnya kalau terlalu higinis ndak malah ringkih. Padahal, kalau suka jajan di pinggir jalan gitu kan harus tahan banting :D Tapi ya, lihat tempat lah. Kalau dekat tempat sampah atau selokan, ya jijik juga.
      Wah, ada teman sesama pecinta sate kere nih. Iya, Mbak, kalau beli sate kere minta diangetin dulu. Kalau terlalu lama di atas daun biasanya berlemak. Saya kurang tahu namanya tp yang Mbak Uniek maksud saya ngeh heheheh
      Terima kasih telah berkunjung :)

      Hapus