Jikalau Pelangi Tak Indah Lagi

Leave a Comment
Nak, jikalau pelangi tak indah lagi; berganti hitam, putih, bahkan kelabu, 
apa yang akan terjadi padamu? 
Pun, apa yang akan kaulakukan?

Nak, bila muram adalah diam, dan diam berarti sunyi. 
Akankah wajahmu tak lagi warna dan warni?

Nak, melihat tawamu, polah lincah tingkahmu, pikiran tak berbeban, 
aku kembali teringat akan diriku yang dulu.

Nikmati masa kecilmu. Bermainlah, tertawalah riang, berbahagialah. Semua tak ‘kan terulang sekalipun kau memiliki kehidupan serbabahagia. Seperti diriku kini, kadang aku ingin menghadirkan masa kecilku dalam dewasaku. Aku ingin bermain, tertawa terbahak-bahak, berkelahi kemudian berbaikan kembali. Tak memikirkan betapa rumitnya hidup ini. 

Nak, kau masih punya waktu. Tak banyak, memang, karena waktu tak suka mengajakmu berjalan pelan. Manfaatkan sebaik mungkin hingga kau terlepas menjadi sosok remaja dan dewasa. Sekali kau kehilangan masa kecilmu, itu tak kan terulang lagi. 

Jangan sampai di masa dewasamu, masa tuamu, engkau seperti diriku. Menyesal tidak akan membuat waktu berbaik hati mengembalikan yang terlewat. Yang bisa kulakukan kini adalah melakukan yang terbaik sebisaku, dengan sisa-sisa kesempatan yang dimiliki agar tiada pernah berucap kata menyesal hingga nanti menutup mata untuk selama-lamanya.

Selesai ditulis di Yogyakarta, Jumat Agung, 18 April 2014

THE BAY: CINTA YANG KEMBALI

Leave a Comment

Oleh: Ratri Puspita
Senja merayap gelap ketika kakiku melangkah di jembatan kayu pembelah kolam renang. Disadari atau tidak, tiap kali berdiri di atas jembatan–di manapun, dengan pandangan bebas luas seperti ini, menjadi saat paling pas melepas segala rupa yang buatku lelah. Dari atas jembatan, tampak pantai sejauh mata memandang. Sebaran pepohonan hijau berbatang ramping ditambah udara segar yang bebas dihirup jadikanku tak ingin beranjak dan memilih menikmati hamparan wajah surga yang tak segan memamerkan kemolekannya. Menyambut siapa pun yang datang dan ingin berkelana di tengah alam tropis Bali. 
Bagian bawah bajuku bergoyang-goyang seirama semilir angin. Napasku menyesak sendu. Tersengal. Memoriku bergulung ke masa silam, mengembalikan ingatan bahwa dahulu aku pernah menikmati masa-masa indah bersama seseorang yang berhasil mencuri hatiku. Sekadar intermezzo, indah, tetapi meninggalkan sengit yang pahit.