SLEMPIT CERITA SANG PENCARI KERJA

2 comments
Sepanjang pengembaraan sebagai pencari kerja, ada saja kejadian yang membuat saya menyunggingkan seulas senyum, tertawa ngakak, menangis, ataupun mengelus dada. Oalah, ngene iki ta angele golek gaweyan, batin saya ketika merasa lelah dengan tantangan dunia. Namun, sebagai penganut peribahasa “esa hilang tak terbilang” garis keras, pantang bagi saya untuk menyerah. Bagi saya, berhenti itu, ya, ketika menginjak garis finish, bukan di persimpangan. Bila saya tidak mengalami aneka rupa peristiwa di masa lalu, maka tidak akan ada saya seperti yang teman-teman temui saat ini, hari ini. Kejadian lalu merupakan bagian dari proses yang harus dilalui, dan nyatanya, saya beroleh banyak hal berharga sebagai bekal perjalanan meraih impian, menjadi seorang yang sukses meniti karir, serta membanggakan orang tua. Pahit-getir sudah dirasakan, ditelan, dan dinikmati. Sekarang, giliran untuk diceritakan. Karena saya bukan manusia egois yang ingin menyimpan rapat segalanya, maka akan saya bagikan “cerita-cerita sampingan” yang pernah terjadi dalam proses mencari kerja. Anggaplah intermezzo saja. Kalau lucu tertawalah, kalau tidak lucu jadikan bahan perenungan. Sebab, setiap peristiwa pasti menyimpan makna.

Suatu hari, saya dapat telepon dari nomor tak dikenal. Saya angkat, siapa tahu penting. Dugaan saya nggak meleset, ternyata dari sebuah perusahaan. Saya dipanggil untuk interview lusa. Okay, saya sanggupi untuk datang. Ancar-ancar lokasi sudah dikasih tahu dan saya cukup mengenal daerah tersebut sehingga tidak ada kesulitan untuk mencapainya. Malam harinya, saya sempatkan browsing, cari tahu tentang perusahaan tersebut. Hitung-hitung, modal buat interview, biar kalau ditanya seluk-beluk perusahaan, saya mampu menjawab dengan baik. Kaboom! Terperanjatlah saya ketika googling yang keluar justru berita miring mengenai perusahaan yang akan saya datangi. Hati diliputi bimbang. Galau, kata anak zaman sekarang (Duh… duh… kesannya udah tuwir beud). Mulai, deh, hitung kancing: berangkat-tidak-berangkat-tidak. Tiba-tiba saja, saya ingat kakak sepupu saya yang pernah mengalami hal buruk ketika mencari kerja. Bedanya saya belum kejadian saja. Tak ingin bernasib serupa, saya putuskan untuk membatalkan diri. Saya nggak mau iseng-iseng or kepo yang ujungnya nggak baik buat saya. Pelajaran penting buat para job seeker: cari info sebanyak-banyaknya tentang perusahaan yang akan dilamar. :)
Pengalaman kedua di tahun 2009. Waktu itu saya mendapat kesempatan interview di sebuah perusahaan yang bisnisnya nggak besar-besar amat. Pertimbangan melamar di sana, semata-mata untuk mengantongi pengalaman kerja. Dalam rangka memenuhi panggilan interview sekaligus menghormati interviewer, saya berusaha tampil serapi mungkin: pakai blus garis-garis, celana panjang kain warna hitam, dilengkapi ikat pinggang sebagai pemanis. Tas warna coklat dibawa sebagai tentengan. Tak lupa, wajah dipoles make-up natural biar nggak kelihatan kucel kayak habis bangun tidur. Saya juga berusaha untuk datang tepat waktu.

Setiba di lokasi interview yang sekaligus merangkap ruang usaha perusahaan tersebut, ternyata interviewer tidak ada di tempat. Kata seorang pegawai, interviewer–yang ternyata bos perusahaan–baru keluar. Cukup lama saya menunggu hingga akhirnya Pak Bos datang juga. Proses wawancara kerja akhirnya akan dimulai. Saya ngekor Pak Bos menuju ruang interview yang letaknya di bagian belakang. Betapa kagetnya ketika mendapati ruang interview yang begitu sederhana. Pikiran bakal di-interview dengan nyaman di sebuah ruang kerja atau meeting room ber-AC buyar sudah. Saya malah merasa seperti sedang bertamu di kantor tersebut, karena kami cuma duduk di kursi bambu (untung nggak disuguh teh dan gorengan :D). Belum lagi ada aroma aneh berseliweran di hidung (macam bau kotoran burung) yang membuat saya nggak konsentrasi penuh. Nggak mungkin, kan, berasal dari pengharum ruangan? Begitu interview selesai, saya melesat keluar untuk menghirup udara segar (nggak segar-segar amat, sih, karena sudah kecampuran asap knalpot). Huahhh!

Ada lagi. Kali ini yang bikin saya tertawa cekikikan sampai ludah muncrat kalau ingat yang satu ini. Waktu itu saya dapat kesempatan wawancara. Saya lupa apakah bentuknya walk in interview atau saya dipanggil setelah lolos screening dokumen (maklum sudah lama banget!) Okay, lanjut, saya pun diarahkan ke suatu meja. Di balik meja, telah menanti interviewer, seorang perwakilan perusahaan. Langkah saya kian mendekat dan saya berusaha tampil sempurna agar tercipta kesan pertama yang tak terlupakan. Tapi,

Dug!

Ujung sepatu stiletto beledu saya menendang meja sehingga menimbulkan suara cukup keras. Anggaplah itu perkenalan kata saya dalam hati sembari menguasai diri. Saya pura-pura nggak terjadi apa-apa sekaligus berharap semoga interviewer-nya nggak dengar. Selesai urusan, saya mau duduk lantaran telah dipersilakan.

Dug!

Dengkul saya beradu dengan meja! Jarak yang sempit antara meja dengan kursi lipat menjadi penyebabnya. Gara-gara pengin duduk seanggun mungkin malah membuat saya malu dua kali. Nggak tahu diri, sih, badan lebar kayak gitu gayanya sok kayak perempuan model iklan susu penurun berat badan. Mbok ya tuh kursi digeser ke belakang dikit. :D Ya, kayaknya saya jadi manusia paling apes hari itu…

Masih dalam rangka mencari kerja. Kali ini saya mau ikutan job fair di sebuah universitas. Saya berangkat sendirian naik kereta api yang berangkat pagi (bukan paling pagi lho ya). Pertimbangannya biar sebelum jam makan siang, urusan sudah selesai dan pulangnya nggak kesorean. Kalau mau ada tes atau interview, bisa langsung ikut hari itu juga. Seandainya ternyata jadwal tesnya diset di luar acara job fair, ya saya bisa langsung pulang (eh, jalan-jalan dulu, ding. Liat-liat kota. Jadi traveler berblazer). Beruntung, karena naik dari Stasiun Tugu, saya dapat tempat duduk. Posisi duduk saya waktu itu di dekat jendela (window seat~halah, kayak naik pesawat terbang aja) dan berhadapan dengan seorang bapak. Beberapa kali si bapak melempar tanya ke saya; seperti mau ke mana? Turun stasiun mana? Dulu kuliah di mana? (gara-gara dia tahu saya mau nge-job fair). Hmmm, ngapain, nih, orang rajin tanya? Batin saya. Ternyata… ada udang di balik bakwan…

Huh! Sebal banget rasanya sama tuh bapak yang begitu enaknya menikmati area terlarang yang seharusnya tidak diperuntukkan baginya. Tapi salah saya juga, sih, nggak menyadari kalau blus saya agak turun sehingga area dada atas kelihatan. Bodohnya saya, kenapa nggak sadar dari tadi, malah asyik makan penganan yang dibeli di stasiun (dulu makanan ini cuma dijual di stasiun lho. Kalau sekarang, sudah ada yang jualan selain di stasiun). Dan blazer… oh, no! Kenapa malah dibiarkan teronggok nganggur di pangkuan dan berubah fungsi jadi tameng remah-remah penganan saya. Cut! Buru-buru blazer saya pakai seperti mengenakan jaket di depan. Dan bapak itu sepertinya ngerti kalau saya menyadari perbuatannya.

Ah, sial! Pagi-pagi bagi sedekah :(


“There is No Shortcut to Success” ~ Maya Arvini
Gambar Pinjam dari Sini

Tulisan ini diikutsertakan dalam CAREER FIRST Blog Sharing GagasMedia & Maya Arvini


2 komentar:

  1. Balasan
    1. FYI, semua kejadian di atas kualami benaran lho! Paling sebal ya kejadian di kereta itu. Rekane dandan, eh, malah kena cobaan hahahaha. Ya, itulah lika-liku pencari kerja. Itung-itung buat pembelajaran & pengalaman. Kalau besok anakku pengin tahu sejarah hidup ibunya, ya, tinggal takbukain blog ini aja. :D

      Betewe, terima kasih sudah berkunjung. Sering-sering mampir ya, Dek! :D

      Hapus