AirAsia yang Mengubah Hidupku

2 comments

Bermula dari Asa


Menulis sudah menjadi napas hidupku. Berawal dari buku harian murah yang dimiliki ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku seperti mendapat ruang berkreasi yang bebas. Namun, meski gemar menulis, tak pernah sekalipun terbetik untuk menanam cita-cita sebagai penulis professional lagi produktif yang menelurkan banyak karya berlabel “best seller”, diganjar penghargaan bergengsi, popularitas, dan tentu saja sejumlah materi. Aku cuma asal menulis untuk memenuhi adiksiku pada rangkaian kata.

Adapun cita-citaku dulu pengin jadi pramugari, hasrat pribadi yang dimantapkan setelah berulang kali berganti. Alasannya terbilang klasik: biar bisa keliling dunia. Naik pesawat-gratis-digaji pula. Ditambah, aku naksir dengan gaya berpakaian pramugari yang rapi dan terlihat anggun. Di mataku kala itu, profesi pramugari itu keren dan idaman banget! Sayang hanya sekadar cita-cita. Banyak faktor yang menjadikannya kandas tanpa pernah take off. Untunglah masih tersedia jalan lain bila ingin keliling dunia. Menulislah!

Dari Sepasang Mata yang Menaruh Rindu

Leave a Comment
Bukan hal mudah menuliskan lisan
Bukan hal mudah mengungkap
setelah sekian lama senyap
Semua untukmu, agar kau tahu, tak sekadar menerka
inginku…

Hati kecilmu pasti telah merasakan
'ku yakin itu…
Kau hanya butuh dibenarkan
kataku…
Sayang, aku diliputi ragu
akankah kau mengerti kata hatiku?
Akankah kau memahami segenap perasaanku?
kepadamu…

Kumemandangmu sebagai insan sempurna
yang jadikanku cinta
Kumelihat kau mampu melindungi
kukatakan berulang kali
Kumerasa kau mencintaiku
itu yang masih harus dibuktikan

Kita berdua jauh… nyatanya
Kita berdua jatuh… memang
Kapan ‘kan rekat kembali?
Hanya kata “Entah…” yang jadi penjawabnya



Musim penghujan’12
Kepada sang pengisi hati

Lebaran 3 in 1

3 comments
Allaahu akbar… Allaahu akbar…
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd
Gema takbir membahana, mengisi ruang semesta dan relung hati yang siap menyambut datangnya hari kemenangan. Atas limpahan rahmatNya yang terus mengalir, tahun 2014 masih diperkenankan bertemu Idulfitri 1435 H setelah berhasil menahan lapar dan dahaga serta mengalahkan hawa nafsu sebulan lamanya. Lebaran menjadi momen puncak penantian atas dua belas bulan lamanya.

Tahun ini 1 Syawal 1435 H jatuh pada 28 Juli 2014. Keinginan untuk ngumpul bareng keluarga besar dan orang-orang terdekat menuntun para perantau kembali ke kampung halaman, rela menempuh perjalanan panjang, berjibaku dengan macet, tiket mahal, dan berbagai halang-rintang yang jamak terjadi jelang arus mudik, saat arus mudik, hingga arus balik. Tradisi mudik (dari kata dasar: udik “desa, dusun, kampung”) pada hari Lebaran memang masih menjadi semacam konduktor guna menyemai bahagia dan kebersamaan.