AirAsia yang Mengubah Hidupku

2 comments

Bermula dari Asa


Menulis sudah menjadi napas hidupku. Berawal dari buku harian murah yang dimiliki ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku seperti mendapat ruang berkreasi yang bebas. Namun, meski gemar menulis, tak pernah sekalipun terbetik untuk menanam cita-cita sebagai penulis professional lagi produktif yang menelurkan banyak karya berlabel “best seller”, diganjar penghargaan bergengsi, popularitas, dan tentu saja sejumlah materi. Aku cuma asal menulis untuk memenuhi adiksiku pada rangkaian kata.

Adapun cita-citaku dulu pengin jadi pramugari, hasrat pribadi yang dimantapkan setelah berulang kali berganti. Alasannya terbilang klasik: biar bisa keliling dunia. Naik pesawat-gratis-digaji pula. Ditambah, aku naksir dengan gaya berpakaian pramugari yang rapi dan terlihat anggun. Di mataku kala itu, profesi pramugari itu keren dan idaman banget! Sayang hanya sekadar cita-cita. Banyak faktor yang menjadikannya kandas tanpa pernah take off. Untunglah masih tersedia jalan lain bila ingin keliling dunia. Menulislah!

Browsing Saja!


Menulis kini jadi passionku. Tersembul nikmat, suka cita, dan damai tatkala hanyut dalam proses demi proses yang dilalui hingga buah karya itu jadi. Dan akibat pengaruh guru kehidupan, timbul keinginan menjadikan karyaku tidak sekadar milik pribadi seorang. Aku pengin punya buku, entah itu buku solo atau buku keroyokan. Toh, kesempatan terbentang di depan mata. Setiap orang punya kesempatan yang sama. Kemudahan memublikasikan karya pun sangat terbuka lebar. Tugasku hanya menulis hingga rampung. Bikin karya yang berkualitas lagi layak baca. Masalahnya… aku lemah dalam membangun setting lokasi, utamanya untuk cerita fiksi.

Aku kurang percaya diri menulis cerita bersetting lokasi yang sama sekali belum pernah kudarati. Betul, aku bisa saja googling, browsing, baca setumpuk referensi, atau interview. Namun, rasanya masih kurang puas. Timbul kekhawatiran tulisanku kacau balau, feel-nya nggak dapat, dan isinya tidak sesuai kondisi sesungguhnya. Saran untuk menitipkan panca indera kepada orang-orang yang berada di setting sasaran pun belum bisa sepenuhnya kusetujui. Ragaku harus (pernah) berada di tempat yang menjadi bidikan lensa kreatifku. Demikian prinsip berkata.

Menjadi mudah bila mengangkat setting Kali Code Yogyakarta misalnya, karena tempat itu bisa dijangkau hanya dengan selemparan batu dan aku begitu mengenalnya. Namun, apa jadinya bila Kali Code berulang kali ditemukan di dalam setiap karyaku? Kamu benar, bakalan membosankan. Maka daripada itu, aku harus memberi suasana berbeda di setiap karya yang kulahirkan: roman fiksi bersetting lokasi bumi kanguru, novel bernapaskan alam Nepal, atau prosa tentang Bali pedesaan. Kreatifitas bisa memaksa penulis “bermain” di luar zona kelumrahan dan bila aku tidak berani mengiyakan, aku ‘kan tenggelam tanpa pernah merasakan terbang di atas awan.

Setting lokasi yang tergambar detail mutlak diperlukan di dalam dunia penulisan fiksi. Pembaca zaman sekarang begitu kritis dalam mencermati setiap karya yang ingin dikonsumsi. Pernah, dalam suatu forum, seorang pembaca terang-terangan menyatakan bahwa ia tak segan-segan membanting novel yang dibeli bila ketahuan isinya jelek. Setidaknya itu yang ditangkap oleh telingaku. Si pembaca sepertinya beranggapan, nominal yang dikeluarkan harus sebanding dengan nilai buku yang dibeli, bahkan kalau bisa lebih dari nilai tebus. Itu baru isinya, belum lagi bila setting lokasinya melenceng, kurang valid, dan bertebar kekurangan di sana-sini. Hal yang sangat wajar, memang, sebab ketika aku memosisikan diri sebagai pembaca, aku pun kerap menuntut hal yang sama. Skill menulis saja tidak cukup. Punya ide brilian, fresh, dan siap dieksekusi pun agaknya masih terasa dangkal bila tidak diimbangi dengan setting lokasi yang kuat. Bila penulis ingin menghasilkan karya yang layak baca, ya, fase riset harus dilakoni. Kedalaman riset musti dihasilkan.

Menulis Bersama AirAsia


30 Juli 2014.

Halte TransJogja di Bandara Adisutjipto padat oleh calon penumpang, mulai calon penumpang biasa hingga calon penumpang yang habis turun dari pesawat. Kala itu, jam menunjuk angka tiga lebih sepuluh. Kemudian, masuklah sepasang turis (aku perkirakan berasal dari Benua Biru) laki-laki dan perempuan. Masing-masing dengan ransel jumbo menempel di punggung dan ransel lain berukuran sedang di bagian dada. Barang bawaan sang turis perempuan masih ditambah dengan sebuah tas kain berisi kitab suci para traveller dan air minum kemasan botol. Keduanya lalu lekat pada lembar peta trayek dan halte angkutan bus perkotaan yang ditempel di kaca halte. Sesekali jari sang turis lelaki menyusuri jalanan mini peta disela menekuri isi kitab.  

Mataku seketika awas terhadap label AirAsia yang melingkar di handle ransel. Label itu seolah mengabarkan bahwa keduanya baru saja menjadi penumpang maskapai low cost carrier ini. Lewat keduanya, AirAsia mewartakan bila keliling dunia kini bukan lagi mustahil bagi siapa pun yang menginginkannya. Peribahasa “Banyak jalan menuju roma” pun diplesetkan jadi “Banyak jalan keliling dunia”. Yeah, is a must travelling around the globe before we die! Dan AirAsia menegaskan bahwa keinginan atau mimpi itu bisa terwujud. Mudah dan murah. “Everyone can fly” janjinya.

Gambar Pinjam dari Sini

Penawaran tiket low budget ke berbagai titik destinasi menarik bagai angin segar dan bikin semangat makin membuncah. Ketika berkunjung ke http://www.airasia.com/id/id/home.page sungguh aku dibuat terperangah dengan aneka fakta di depan mata. Nggak salah? Bahkan ada penawaran kursi gratis untuk penerbangan domestik maupun internasional. Dengan 95 destinasi dan 160 pesawat, aku tinggal memilih ke mana kaki ini akan menjejak: Bali, Lombok, Palembang, Medan, Singapura, Jepang, India, Nepal, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Philipina, Korea, maupun Australia. Tak heran bila penghargaan World’s Best Low Cost Airline dan Asia’s Best Low Cost Airline (enam tahun berturut-turut) menjadi milik AirAsia.

Yuhuuu! Bersama AirAsia, proses penulisan dan membangun setting lokasi secara detail akan berjalan dengan mudah. Outline sudah ada, proses menulis mulai jalan, coretan berisi data sebagai bekal riset sudah terkumpul. Bagaimana cara bisa sampai ke tujuan? Serahkan saja kepada AirAsia. Hambatan yang bikin aku gamang, maju-mundur, nggak jadi-jadi menulis telah menemukan jalan keluar. Kehidupan kepenulisanku akan beranjak ke titik yang jauh lebih baik. Pasti!  Dan, pada akhirnya, aku bersepakat dengan Trinity yang mengatakan, “Dengan menjelajah Indonesia dan dunia, paling tidak kita semua punya sesuatu untuk diceritakan.”


Well, tunggu apa lagi? Lekas berkemas dan tulis hingga tuntas.  ***

Referensi:

http://www.airasia.com/id/id/home.page. 29 Agustus 2014

Aman dan Nyaman Bersama LCC Pilihan Dunia. AirAsia. Info Wisata. Kompas, Selasa, 5 Agustus 2014

Liburan Hemat nan Berkesan
. AirAsia. Info Wisata. Kompas, Selasa, 3 Juni 2014
Trinity. 2012. The Naked Traveler 4. Cetakan Pertama. Yogyakarta: B first

Artikel ini ditulis untuk diikutsertakan dalam “Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia
 


2 komentar:

  1. Air Asia emang sering ada promo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, promonya gila-gilaan.
      Sekarang basi kalau bikin alesan nggak bisa ke luar negeri gara-gara tiket mahal.
      Belum kenal AirAsia dia hahahah
      Ayo Mak Mie, hunting dari sekarang, biar bisa travellingan sekeluarga. :)

      Makasih udah berkunjung. :)

      Hapus