Berdamai dengan Kehilangan, Bisakah?

6 comments
Seandainya saja ada di tanganku...
Saya eman banget. Getun.
***
Sebenarnya, mau cerita yang satu ini berat banget. Sama halnya mengingat kembali kenangan yang tak ingin diingat lagi. Saya telah mencoba ikhlas, seikhlas-ikhlasnya. Namun, saya hanyalah manusia biasa, yang masih nggak nrima sama apa yang pernah terjadi. Denial, begitu bahasa Inggris mengatakannya. Sekali lagi, tidak ingin mengingatnya, tapi bayangan demi bayangan terus saja melontarkan saya ke masa lalu. Ujung-ujungnya mimbik-mimbik lagi dan menyalahkan orang lain, terlebih ngejudge si pelaku yang tak lain adalah orang dekat saya sendiri. 

Selama berhari-hari saya merasa sedih dan begitu kehilangan. Kalau teman-teman iseng tengok akun Twitter saya kemarin-kemarin, sekitar tanggal 9-11 Maret 2014, di sana saya melempar pengumuman kehilangan. Orang lain mungkin cuma berpikir, ah, cuma foto doang. Ngapain juga dipikir dalem. Yang hilang, ya, sudahlah diikhlaskan saja. Kan, bisa cari gantinya. Toh, zaman udah modern begini, selama ada "master"nya, kan, bisa direpro.

Bisa cari gantinya...
Begitu ya? Benar juga ya, bisa dicari gantinya. Bisa direpro. Bisa dicetak ulang. Sama. Persis. Plek! Apalagi adik saya, sang pemilik foto hilang pun terkesan merelakan barang berharganya hilang. Tapi... ENAK SAJA!

Cari gantinya... Cari gantinya...

 Sebagian dari Twit-ku
Gambar: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita
Diambil dari Akun Media Sosial Ratri Puspita

Meski cuma foto, foto itu berharga banget. Gambar yang tercetak menceritakan sepenggal jejak kehidupan seorang anak yang tengah menaiki tangga masa depannya. Peristiwa yang menjadikan foto itu ada pada akhirnya akan membawa seorang anak (dan anak-anak lain yang wajahnya turut serta) menuju kesuksesan. Kesuksesan sebagai buah dari doa, usaha, dan perjuangan yang tidak hanya dilakukan anak-anak itu tetapi juga para orang tua yang telah melakukan banyak hal hingga anaknya mereguk kesuksesan. 

Melihat wajah anak-anak tersebut, Anda, para orang tua akan merasakan hal yang sama bahkan bisa jadi melebihi apa yang saya rasakan. Mereka; keluar dari rumah, hidup jauh dari sepasang mata pandang orang tua, saudara, dan keluarga; menjalani masa-masa susah-senang di bumi rantau; berusaha sekuat hati, setegar karang agar bisa hidup mandiri dan menepis kangen dengan orang tua sanak saudara, serta kampung halaman. Dan ketika mendapati diri sudah bergaji, kiriman uang kepada keluargalah yang pada akhirnya tersampaikan mewakili rasa hormat, ungkapan terima kasih, juga rindu yang taktertanggungkan.

Tengoklah kembali ke masa-masa anak-anak itu memulai perjuangan mereka: berburu lowongan pekerjaan, memelototi setiap iklan lowongan kerja yang terpampang di berbagai media, menyusun aplikasi lamaran, memasukkan lamaran, mengikuti tahap demi tahap rekrutmen, hingga kabar bahagia mampir teruntuk generasi muda yang smart: IPKnya memenuhi syarat, attitude-nya baik, dan tentu saja diliputi bintang keberuntungan. Sampai di sini, saya teringat waktu adik saya mempercayakan kakaknya ini menjadi orang pertama yang tahu bahwa dia diterima menjadi pegawai di tempat ia bekerja saat ini. Setelah itu, barulah giliran ibu kami. Dan, ketika hari itu tiba, Agustus 2014, saya harus merelakannya pergi menuju tempat yang sama sekali jauh dari bayangan kami. Ketika mengantar ke bandara, saya harus menahan jatuhnya air mata. Cukuplah mata ini berkaca-kaca. Jangan sampai "kaca" itu pecah dan berubah menjadi bulir bening yang mengairi wajah. 

Foto itu... menceritakan banyak hal. Kenangan adik saya dan teman-temannya juga kenangan pertemuan kami di ibu kota. Berbulan-bulan hanya mendengar suaranya melalui sambungan telepon, membuat kerinduan kian membuncah. Selain itu, saya pun jadi pangling sama penampilannya yang agak berubah. Tubuhnya lebih berisi. Maklum saja, dia, kan, sudah bisa memberi makan dirinya sendiri. Mau beli makanan ini-itu suka-suka hati. Serpihan kenangan itulah yang menjadikan saya merasa begitu kehilangan, begitu menyesali, begitu merasa sayang. Foto yang rencananya akan menempati satu bagian lapis dinding di rumah sederhana kami, yang kelak akan dipandang berpasang mata yang singgah di rumah kami, ternyata hanya sampai tiga-perempat perjalanan. Jujur, hingga detik ini, saya masih mengharapkan adanya keajaiban. Saya ingin foto itu kembali... ingin sekali...

Kembali? Tapi kapan? Mencari tukang becaknya saja tidak kunjung ditemukan, bagaimana bisa foto itu kembali berada di dalam dekapan? Ada-ada saja...

Iya, ya, ada-ada saja. Sama mengada-adanya dengan menaikkan harapan yang palsu. Sama tidak masuk akalnya dengan timbulnya keinginan mendapat second chance...

Oh, second chance... hey, mana ada. Waktu saja bergerak maju. Mana mungkin dalam kasus ini, kan, kudapat second chance. Berarti... itu sama halnya saya harus berhenti meratapi kehilangan ini? Benarkah saya harus mengikhlaskan yang jelas-jelas bukan jadi rezeki?

-Sampai di titik ini, saya mulai menemukan "akal sehat" yang sempat hilang tak tahu ke mana-
-merenung-

Iya, sih, sebagian hidup manusia berhubungan dengan kehilangan: kehilangan barang (entah kecopetan, entah lupa taruh, entah diberikan ke orang lain), kehilangan teman, kehilangan anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, termasuk kehilangan kesempatan. Seolah telah digariskan, maka hingga ke ujung dunia pun, bila sudah saatnya kehilangan, ya, yang ada hanyalah kehilangan itu terjadi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Kapan saja.

Soal second change, ternyata ada dan saya mendapatkannya. Saya cukup senang mengetahui hal ini. Terselip suka cita di dalam diriku. Dan second change-ku adalah berdamai dengan kehilangan. Menerima kehilangan dengan legawa dan bersigera membuka bab baru. Bab kemarin sudah usai dan kini saatnya berganti cerita. []

6 komentar:

  1. berdamai dengan keilangan itu tidak mudah ya mbk...
    semangat ya mbak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tidak mudah, tapi mau tidak mau harus dilakukan.
      Terima kasih. :)

      Hapus
  2. Meski terlihat sepele namun bila itu sangat berharga bagi kita, rasanya akan sangat merasa kehilangan bila ia memang benar2 hilang. Saya sendiri paling susah untuk berdamai dengan kehilangan, butuh waktu, pengertian dan keikhlasan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kelihatannya sepele, tapi bagi yang mengalami nggak sesederhana kelihatannya. Butuh waktu untuk bener-bener bisa melepaskan yang bukan milik kita lagi. :)

      Hapus
  3. Tentang kehilangan foto, saya pun mengalami, Mbak. Hard disk rusak, seluruh foto di dalamnya gak selamat sampe sekarang. Makanya, saya gak punya foto anak pertama saya ketika lahir hingga usia sekitar 2 tahunan. Masih agak susah move on. Walopun coba untuk ikhlas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh... sayang sekali ya. Moment kelahiran anak menjadi kenangan indah, bukan hanya untuk orang tua maupun keluarga besar ya. Si anak sendiri ketika sudah besar bakal menanyakan foto-fotonya saat dia masih bayi. Semoga putranya bisa memahami ya.

      Move on yuk, Mbak Myra. Jadikan "ikhlas" nama tengah kita. :)

      Hapus