Hikmah Paskah 2015

1 comment
Paskah 2015 kemarin nggak cihuy banget! Gimana nggak cihuy coba, ketika orang lain pada liburan long weekend dan merayakan hari kebangkitan Kristus, di saat yang sama saya malah terkapar di tempat tidur. Di saat semangat ngeblog sudah balik dan siap ketak-ketik, eh, malah penyakit datang menghampiri. Beragam rencana yang telah diset sedemikian rupa kudu diset ulang. Okay, saya sadar tubuh ini bukan terbuat dari besi dan baja antikarat, antimasuk angin, antidiare, antimuntah, antimaag, bla-bla-bla. It's only a human body. Ya, aku (mencoba) tahu dan paham sepenuhnya.

Seperti orang sakit pada umumnya, tentu saja saya penginnya cepat sembuh. Kalau pun dikasih sakit, cukuplah sehari dua hari saja. Setelah istirahat cukup dan mengonsumsi makanan bergizi, badan kembali sehat seperti sedia kala. Itu mauku. Tapi, keinginanku rupanya nggak sejalan dengan kehendak Tuhan. Sempat "melawan" sih, dengan cara tetap berlaku layaknya kondisi lagi di puncak bugar meski badan belum fit benar. Dan ya, hasil mbandelnya adalah badan kembali lemas. Ya, ampyunnn... *nggak habis pikir*

Kalau diingat-ingat, saya mulai sakit hari Rabu dini hari. Namun, berhubung kurang pengalaman sakit, jadinya nggak ngeh, kalau kegerahan diikuti keringat membanjir hingga tak bisa tidur itu mula peristiwa hari-hari berikutnya. Paginya, Kamis, saya bangun seperti biasa dan minta dipijiti ibu, karena badan terasa pegal-pegal. Saya nggak merasa ada yang aneh dengan pegal di pagi hari lantaran terbiasa mengalaminya. Malah, saya menghubungkan pegal dengan masuk angin, karena semalam saya tidur dengan pakaian yang basah oleh keringat. Nggak kepikiran ganti baju. Yang ada di dalam kepala saya hanya tidur akibat kantuk yang berat dan nggak bisa dilawan.

Menuju siang, barulah sakit itu datang. Saya mengalami diare dan muntah barengan. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut nggak bertahan lama. Begitu seterusnya. Baru terasa nyaman kalau perut dalam keadaan kosong. Habis dari kamar mandi, minyak kayu putih dioles di sekitar perut. Anehnya, minyak kayu putih yang biasanya terasa hangat di badan, kali ini nggak ada rasanya sama sekali. Cuma baunya saja yang tercium. Begitupun dengan minyak kayu putih yang teroles di sekitar leher dan tengkuk, blas, nggak ada anget-angetnya sama sekali. Ini badanku yang benar-benar bermasalah atau minyak kayu putihnya yang udah masuk expired? Nggak ngerti...

Malam menjadi saat yang sangat tidak mengenakkan. Di saat orang lain di satu rumah yang sama pada tidur nyenyak bahkan sampai ngorok, saya harus berjuang hanya untuk bisa tidur. Beberapa jam sebelumnya, saya sudah dikerokin sama ibu karena benar-benar kepepet. Saya masih saja berpikir saya kena masuk angin. Sisa-sisa kerokan meninggalkan efek samping: bikin badan pegal-pegal. Untuk mengurangi pegal-pegal, saya menempelkan koyok di sejumlah tempat. Lumayan, lebih anget daripada minyak kayu putih. Angetnya yang tahan lama sampai pagi bikin badan enak dibawa tidur.

Minggu, 5 April 2015. Hari ini adalah hari Paskah. Saya ingat, dulu, waktu kecil pernah diajak paskahan di gereja. Ikutan ibadah sekaligus perayaan buat anak-anak.  Saya datang ke perayaan barengan sama anak-anak tetangga yang sepantaran. Jalan kaki ramai-ramai sembari menenteng telur yang telah dihias dari rumah. Telur itu akan dijadikan "telur silang" buat seluruh anak-anak yang ikutan perayaan paskah di gereja. Seru? Tentu saja! Sayangnya, Paskah yang menyenangkan sedang tidak berlaku di rumah ini. Sampai hari ini saya masih sakit. Sedih, tentu saja. Saya sudah berdoa semalam agar diberi kesembuhan dan berharap badan segera 100% fit.  Kelamaan sakit itu nggak enak!

Ternyata, yang instan hanya berlaku untuk makanan dan minuman saja. Yang namanya sembuh tidak mengenal kata instan. Adanya bertahap dan butuh waktu. Pakai proses. Apalagi kalau buat anak bandel macam diriku, sembuh itu harus dipaksa. Dipaksa istirahat. Badannya jangan dipakai kerja dulu. Sampai di sini, saya mulai bete. Yah, gagal deh, hunting materi nulis. Bukti lain yang mengatakan aku belum sembuh total adalah aku masih diare dan muntah walau intensitasnya menurun dibanding hari sebelumnya. Agak kecewe juga sih, tapi tetep Puji Tuhan ada progress menuju sehat.

Selama beberapa hari dikasih sakit, saya sudah mulai bisa membaca maunya tubuhku. Jadi, makan dalam porsi kecil, tapi sering. Paling nggak 15-30 menit sekali. Sebelum makan, minum obat antasida dulu buat melambari perut dan menetralisir asam lambung. Habis makan, minumnya air bening hangat dan lagi-lagi dalam porsi alias gelas kecil. Jangan diminum sekaligus, tapi pelan-pelan. Seteguk demi seteguk disertai tarik napas perlahan. Udah. Habis itu duduk-duduk sebentar untuk menurunkan makanan dan minuman tadi. Kalau badan mulai ngedrop, dibawa istirahat. Tiduran atau tidur benaran. Kalau cuma tiduran, buat ngilangin bosen, saya memilih untuk nulis atau buka media sosial atau blog walking atau baca-baca artikel atau chatting gangguin orang hehehe. Kalau di tengah-tengah itu mata mulai ngantuk, ya langsung taruh aja devicenya dan zzzzzz.

Senin, 6 April 2015. Badanku berangsur membaik. Banyak istirahat, tahu cara memperlakukan tubuh sendiri, disiplin, dan nggak ngeyel tampaknya jadi ramuan kesembuhan diri. Rencana mau test darah dan ukur tensi ke Puskesmas urung, karena badan sudah enakan. Yang tersisa hanyalah sedikit rasa lemas di kaki, terutama bagian dengkul dan betis, bila diajak jalan ke sana ke mari terus menerus beberapa menit. Nggak masalah. Sementara mainnya pelan dulu. Tubuh, kan, butuh recovery. Yang pasti, pas coba makan pakai nasi dan ikan salem *hiks, kayak menu kucing* saya sudah nggak merasa mual. Test nambah nasi pun gak masalah, minum air dingin pun nggak pa-pa. HORE! Kamu benar-benar tubuhku yang sangat pintar. Kita pasti sehat-sehat-sehat.

Sakit membawa saya pada banyak pelajaran yang kemarin-kemarin sangat diabaikan. Bahwa tubuh manusia bukanlah robot dan kesadaran mutlak diperlukan saat hendak makan. Makan bukan semata karena memenuhi kewajiban terhadap tubuh akibat timbulnya rasa lapar, tetapi juga agar tubuh peroleh energi dan gizi yang cukup untuk bekerja dan berkarya. Perhatikan makanan yang hendak di makan, tanyakan kepada diri sendiri apakah tubuh kita membutuhkannya, berikut porsinya. Sakit ini pun membawa saya pada perenungan untuk bisa membaca dan bekerjasama dengan tubuh. Perhatikan bila tubuh mulai kasih signal; karena sakit, ngedrop, pasti sudah jauh hari diumumkan sama tubuh. Tinggal kitanya aja yang aware or not. Bersahabatlah dengan tubuhmu.

Akhirnya, dengan kesembuhan yang diterima tersampaikan pula syukur. Bukan cuma satu syukur tapi dua. Syukur atas kesembuhan dan syukur atas pelajaran berharga yang diberikan di saat yang tepat. Selalu ada pelajaran, nilai moral yang mendewasakan cara berpikir dan bertindak seseorang melalui hadirnya suatu peristiwa.[]

1 komentar: