Kampung Halaman yang Harus Kutinggalkan (Hari Ketiga)

1 comment
Bukanlah suatu hal menyenangkan bercerita tentang perpisahan. Namun, mau tidak mau, kembali saya harus melakukannya. Tantangan cukup berat ini harus bisa ditaklukkan. Kalau tidak, saya bakal paranoid selamanya.

Minggu, 3 Mei 2015, adalah hari terakhir Emuk liburan pendek di Yogyakarta, kampung halaman tercintah (tolong, ya, "H"nya ikutan dibaca hahaha). Malam sebelumnya, mulai, deh, childishku kumat. 
Ya... Emuk besok balik. Ya... Emuk besok balik.
Begitu gumamanku. Habis, berat, sih, berpisah (lagi) sama adik kesayangan. Dia yang suka boncengin saya ke mana-mana. Dia yang mau ngajak kakaknya ini belanja kebutuhan dagang yogurt maupun membeli kebutuhan pribadinya. Dia, yang nggak malu bawa kakaknya, yang kadang suka malu-maluin ini, delivery yogurt ke pelanggannya di kawasan Yogyakarta utara dan selatan terus pulangnya nyempatin jajan. Dia, soulmate-ku urusan makanan. Hehehe. 

Pagi itu, Emuk sudah mandi, sudah wangi, almost ready berangkat ke bandara untuk penerbangan sekitar jam 12. Namun, sebelumnya, Emuk mau belanja oleh-oleh yang belum sempat dibeli (baca postingan hari kedua). Mulanya Emuk ngajak saya, tapi karena harus kontrol luka di rumah sakit, dengan amat sangat terpaksa, kutolak ajakan Emuk. Kusarankan dia ngajak Tsube aja. Sebelum berangkat beli oleh-oleh, Emuk sama saya diminta ibu belikan bubur dulu di penjual gudheg dekat Pasar Kranggan. Berdua, naik sepeda motor Speedito, saya dan Emuk beli bubur buat ibu.

Gambar: Pinjam dari Sini
Keberuntungan belum berpihak kepada ibu. Buburnya sudah habis saat kami tiba di warung gudheg yang ramai pembeli sampai-sampai penjualnya nggak kelihatan. Saya pun keluar dari antrean dan menemui Emuk yang menunggu di atas jok motor. Kuminta ia menelepon ibu (saya nggak bawa handphone), memberi tahu kalau kehabisan bubur sekaligus menanyakan alternatif makanan buat sarapan.

Suara ibu di balik speaker handphone mengatakan kalau beli gudheg-lauk saja. Ah, leganya hati ini, tidak perlu keliling untuk mewujudkan rekues orang tua. Habis, dengan kondisi jempol masih dalam masa penyembuhan, bagiku riskan bila harus cari (baca: beli) bubur di dalam Pasar Kranggan. Jamak terjadi, pasar ramai banget pas Minggu pagi. Saya tidak ingin jempolku kenapa-kenapa. 

Dengan hati-hati, saya pun kembali memasuki antrean pembeli gudheg. Kali itu, saya menjadi seorang pembeli gudheg paling sopan sedunia. Antre belakang sendiri, nggak menyelinap biar didahulukan, dan nggak ngalang-ngalangin jalan. Hehehe, daripada jempolku keinjek orang lah, ya. Apalagi saat itu, di depanku, berdiri seorang perempuan memakai sandal wegdes cukup tinggi. Hiii.... *bergidik ngeri*

Sampai pada giliranku, saya pun rekues gudheg komplet dengan lauk dua buah telur pindang berwarna coklat nyaris kehitaman dan tiga buah tahu. Kreceknya (jenis krecek kering) dibanyakin dan minta yang ukurannya gede. Total habis 20 ribu untuk gudheg yang dikemas kardus. Bisa buat sarapan sekeluarga. Sarapan Emuk sebelum meninggalkan Yogyakarta.

Usai sarapan, kami pun "berpencar". Saya kontrol luka dan ganti perban di rumah sakit bersama ibu, sementara Emuk beli oleh-oleh sama Tsube. Saya dan ibu berangkat agak pagian, biar jam sepuluh sudah tiba di rumah dan sempat farewell-an with Emuk.

Proses kontrol dan ganti perban tidak makan waktu lama. Puji Tuhan, tidak ada masalah berarti, sehingga hanya dilakukan perawatan standar. Sebelum pulang, saya dan ibu mampir dulu beli jajanan buat ngemil di rumah.

Emuk dan Tsube sampai di rumah duluan. Cepet amat belanja oleh-olehnya. Mendekati jam keberangkatan ke bandara, Emuk pun segera packing. Oleh-oleh sebagian dijejalkan ke dalam ransel, sebagian masuk ke dalam tas koper, berdesakan dengan bantal. Rampung packing, Emuk ngumpul sama kami di ruang tamu. Jajanan yang dibeli di rumah sakit dibongkar lalu dimaem bareng-bareng.  Inilah kebiasaan keluarga saya. Kalau makan atau ngemil, pasti keroyokan, bisa di ruang makan, depan televisi atau di ruang tamu. 

Jam sepuluh-an, Emuk harus berangkat ke bandara. Sedih harus melepas Emuk kembali ke tanah rantau. Emuk pun cipika cipiki sama ibu dan bibi. Kalau sama saya, Emuk cuma salaman. Hiksss...
Love is missing someone when you’re apart, but somehow feeling warm inside because you’re close in the heart. —Kay Knudsen
Sampai ketemu lagi Emuk. Baik-baik di tanah rantau, ya. Semoga Tuhan senantiasa melindungimu; memberimu kesehatan, keselamatan, serta kesuksesan. Sampai ketemu lagi di akhir tahun nanti. Luv you! []

1 komentar: