Mudik Pertama Emuk (Hari Pertama)

Leave a Comment
Welcome Mei!

Akhirnya sampai juga di bulan kelima tahun 2015. Cepet amat yak! Tahu-tahu udah Mei aja. Awal bulan ini dihiasi dengan kepulangan Emuk ke kampung halaman. Senang rasanya bisa ketemu lagi sama laki-laki jangkung berkacamata itu. Yang biasanya hanya ngobrol by phone, selama kurleb 3 hari 2 malam bisa ngobrol langsung. Selain kangen-kangen juga. Hihihi. Emuk emang mudiknya singkat. Memanfaatkan long weekend aja. Tadinya berencana pulkam 13 Mei 2015,  tapi Jumatnya nggak libur. Kesempatan terdekat ya, 1-3 Mei 2015 ini. Ya wislah, sing penting mulih. Udah dikangeni soalnya.

Emuk sampai di rumah tanggal 1 Mei 2015 siang. Di atas jam 12. Dia dijemput si bungsu di bandara. Belum lama masuk rumah, Emuk, yang bawa oleh-oleh "keringan"-biskuit sama susu coklat kemasan-ini udah jajan es dung-dung keliling yang dulu sesekali dibelinya. Nostalgia rupanya sama jajanan kampung zaman masih di Yogya. Dengan lembaran uang bernilai sepuluh ribu rupiah, Emuk beli dalam porsi cangkir, masing-masing lima ribuan. Secangkir buat bibi.

Sehabis ngaso, tidur tepatnya, sore harinya Emuk and me dolan ke rumah sepupu di daerah Wirobrajan. Di rumah Wirobrajan, kami meet n greet sama keluarga pakdhe, terlebih say hello sama si kecil Gecy, ponakan yang sukses mencuri hati kami sekeluarga. Tuh bocah lucunya maxi banget. Tingkahnya, kemampuanya di usianya yang belum ada setahun bikin saya takjub. Emejingg! sepotong kata untuk mengekspresikan rasa takjubku yang berlebih itu.

Sewaktu dolan ke rumah saudara, kami bawa buah tangan, yakni oleh-oleh yang dibawa Emuk dari rantau dan buah yang dibeli di supermarket langganan di bilangan Jalan Jendral Sudirman. Supermarket ini dulunya sering didatangi Emuk buat belanja susu cair untuk keperluan jualan yogurt. Hmmm... aroma kenangan nikmat terasa. Sedap disesap. Bedanya, kemarin kami sama sekali nggak beli susu merk biasanya. Cuma beli susu low fat buat saya doang. Itu pun kemasan kecil sekali minum. Heheheh.

Gambar: Pinjam dari Sini
Perjalanan ke rumah saudara lumayan lancar. Ya, standar kondisi lalu lintas Kota Yogyakarta-lah. Rute ke rumah Wirobrajan membuat kami sempat melewati kedai nongkrong anak muda yang dulu sempat jadi langganan yogurtnya Emuk. Ah, lagi-lagi, kenangan menyelinap tanpa permisi. Tatkala melempar pandang, jadi ingat masa-masa kami boncengan motor ngantar yogurt pesanan. Demi rezeki.

Akhirnya nyampai juga ke rumah saudara. Ketemu Gecy yang ternyata masih imut. Beda sama di foto yang keliatannya udah gede gitu. Hahaha. Dasar fotonya menipu, padahal nggak pakai diutak-atik lho. Habis jepret, langsung disend sama Mami Gecy. Gecy masih jual mahal ih! Belum mau digendong. Lengket sama Maminya. Ditinggal ke "belakang" aja mewek. Tapi, dia udah mau kok diajak "cilukbanan" dan ngajak ngobrol dengan bahasa bayiknya yang butuh kesaktian untuk bisa menerjemahkan artinya. Tak lama berselang, Daddy-nya Gecy datang. Makin rame-lah suasana. Sayangnya, meet n greet kemarin kurang lengkap karena nggak bisa ketemu sama pengantin baru. Keduanya lagi honey moon ke timur ceritanya.

Jelang malam, Daddy sama Mami Gecy ngajak nyari makan, sementara Oma Gecy mau rosario di rumah tetangga. Kami pun jalan nyari makan naik mobil. Duh, Gecy riang benar. Di dalam mobil, dia yang duduk di jok depan, dipangku Maminya, ngajakin becanda mulu (cilukba) sama saya dan Emuk yang duduk di kursi tengah. Ditambah kalau diputerin musik kepala dia goyang-goyang gitu. Lucu banget bayik satu itu. Kejedot kaca pun nggak nangis. Hahahaha.

Perjalanan mencari makan ternyata nggak begitu mulus. Nyari mie jawa aja sampe muter-muter ke beberapa tempat. Tempat pertama, katanya Oma Gecy, tempatnya nggak begitu higinis. Pindahlah kami ke tempat kedua, seberang lapangan apa gitu, nggak begitu kenal daerahnya. Eh, sampai di tempat, diberitahu penjualnya kalau kami dapat nomor tunggu 30-an (!), padahal orang-orang yang ada di dalam warung itu nggak nyampek 30. Separuhnya aja kagak ada. Itu nomor urut dari mana dan yang pesen siapa aja, ya? Penasaran. Begitu mendengar angka 30, kami pun mundur teratur. Urusan perut, kami bukan tipikal orang yang bisa bersabar. Hahaha. Mau nunggu sampai jam berapa coba? Bawa bayi pula. Daddy-nya Gecy yang turun terakhir lantaran cari parkir kudu balik badan lagi habis liat kami berempat kluyar-kluyur mirip pendekar kalah perang. Wakakaka. Nyari lagi yok!

Menyusuri jalanan selatan Kota Yogya, tujuan kami emang bener-bener niat cari makan. Gagal dapat mie jawa, yang katanya lebih enak daripada tempat pertama, kami pun melanjutkan perburuan menuju tempat jualan mie langgananya Mami-Daddy Gecy. Mendekati tempat jualan, lagi-lagi kami dibuat kecewa. Tutup! Hadoh! Mau ke mana lagi, nih? Muter-muter lagi aja, deh, siapa tahu dapat wangsit di tengah jalan.

Suasana jalanan makin ramai aja. Finally, tahu nggak ke mana kami akhirnya berhenti? Di tempat pertama! Yang katanya warung kurang higinis tadi. Ngakak deh! Mau gimana lagi. Setelah menepikan mobil di sisi kanan jalan, kami pun turun dan pesan makanan kepada penjual laki-laki yang sudah berumur itu: mie kuning godhog nggak pedes 1, mie kuning godhog pedes 1, bihun godhog 1, bihun goreng 1, sama nasgor 1. Total 5 pesanan. Sambil menunggu dibuatin, kami duduk-duduk di bangku panjang. Capek duduk, Daddy Gecy, Mami Gecy, Gecy, plus saya mampir ke minimarket sebelah warung. Keluarga Gecy belanja kebutuhan harian sekalian nyari kaus buat Gecy (tapi batal karna gak ada ukurannya), sedangkan saya beli ikat rambut biru yang mau dipakai ke acara Sabtu keesokan harinya. Keluar dari minimarket, pesanan belum jadi juga. Keluarga Gecy pun ngobrol sama pemilik persewaan komik yang bertetangga dengan warung mie. Kalau saya, sih, kembali duduk aja. Emuk beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke minimarket. Keluar dari minimarket, Emuk udah nenteng kresek isi Yakult.

Pesanan kami jadi juga. Perjuangan banget nunggu dimasakin pakai arang. Nggak hanya soal kesabaran, urusan makan juga diwarnai dengan insiden salah bikin. Pesanan nasi goreng buat Daddy Gecy berubah jadi mie goreng. Wah, bapaknya penjual mie piye, sih? Kok sama orderan kita aja salah. Nggak dicatet, sih! Lain kali dicatet ya, Pak. Alhasil, mie salah bikin pun tetap dibawa pulang. Daripada rame dan makannya makin lama. Perut udah minta diisi soalnya. Kami pulang ke rumah Wirobrajan lagi buat makan bareng pesanan masing-masing.

Malam kian larut. Baby Gecy kayaknya udah mulai ngantuk, tapi karena masih banyak temannya yang "on", dianya ikutan bertahan. Oma Gecy sudah masuk kamar buat istirahat. Puas mainan sama Baby Gecy, saya dan Emuk pamit pulang. See you soon semua! Dalam perjalanan pulang, mampir dulu di apotek buat beli kain kasa sama plester buat si jempol kaki yang lagi terluka. Habis itu kembali kami boncengan naik speedito. Perjalanan selanjutnya adalah.... ke pizzi hitty!

Emuk pengin traktir pizzi hitty, sebutan kami sekeluarga buat makanan khas Italia bernama pizza. Makanan yang satu ini terasa cukup mahal bagi kami, sehingga makannya pun hanya di saat-saat tertentu saja, seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru atau kalau ada anggota keluarga yang ulang tahun. Berhubung Emuk udah bisa belikan pizzi hitty, habis meet n greet with Gecy, kami pun mampir di pondok pizza yang lokasinya dekat rumah. Duet hemat seharga dua ratus ribu pun dipesan untuk take away, dimaem rame-rame di rumah. Mamacii, Muk!

Agenda first day di kampung halaman tuntas sudah. Emuk pun menikmati malam di rumah saja, ngumpul untel-untelan di kasur depan televisi sama adik-adiknya. And me? Saya ngantuk berat. Dan tidur duluan. Agenda Emuk hari kedua di postingan berikutnya ya. []

0 komentar:

Posting Komentar