Mie Time, Mie Ayam Teriyaki Solaria

6 comments

Yogyakarta | 6 Juli 2015 
Hi, me time!
Asyiknya bisa nge-mall lagi, setelah sekian bulan absen gegara jempol kaki kena musibah. Hiks... Sebenarnya kurang cocok dibilang me time, sih, secara perginya sama ibu dan bibi. Menurutku, yang disebut me time itu, ya, ngebolang sendirian atau pergi sama teman atau sahabat, bukannya sama emak dan bibi, ya. Hmmm... Tak apalah, anggap aja me time cus tujuannya buat refreshing, cuci mata atau apa pun itu yang intinya keluar dari rutinitas yang membosankan.

Nge-mall kemarin perginya dibagi jadi dua kloter. Ibu misah duluan karena ada suatu keperluan, sedangkan saya dan bibi berangkat bareng naik TransJogja 1B jam 14.15. Sengaja berangkatnya siang dan ngeplot waktu sejam, jaga-jaga kalau nunggu bisnya lama atau kena macet geto. Sekitar jam 14.30 TransJogja yang ditunggu datang juga. Setelah penumpang yang turun habis, saya dan bibi dipersilakan masuk oleh pramugara ke dalam bis yang sepi. TransJogja pun melaju ke arah timur.

Mengikuti rutenya, kami jalan-jalan dulu ke utara sebelum diantar ke pusat perbelanjaan megah yang berada di wilayah timur Yogyakarta dan menjadi bagian dari Kabupaten Sleman ini. Dari perempatan Gramedia, TransJogja belok kiri ke utara, melewati bunderan UGM, perempatan Sagan, Jalan Colombo-UNY, kemudian belok kiri melewati Jalan Affandi sampai masuk Terminal Condongcatur pada jam 14:50. Keluar dari Terminal Condongcatur, bis balik lagi ke selatan melewati Jalan Affandi. Dan sampailah kami di mall yang letaknya berdampingan dengan Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel. Saat saya dan bibi berjalan mendekati pintu masuk, sosok ibu terlihat dari kejauhan. Pas, nggak perlu saling tunggu. 

Plaza Ambarrukmo siang hari itu tampak lengang. Pengunjungnya masih sibuk di tempat kerja kali, ya. Ditambah saat itu masih jam-jamnya sahabat muslim puasa Ramadhan. Area terbuka di Ground Floor, yang biasa dipakai untuk eksibisi, kali itu kosong melompong (makanya ibuku menawarkan kalau mau guling-guling di lantai silakan. Nggak bakalan kulakukan. Malu sama umur. Hahaha. Kecuali kalau ada hadiahnya, Samsung Galaxy S6 Edge atau Iphone 6 atau MacBook Pro, misalnya. Hahaha). Namun, kehidupan mall pada umumnya masih tetap terasa. Kuprediksi, keramaian akan bergeser pada jam-jam menjelang buka puasa.

Jalan bertiga, kami nggak langsung menuju ke Carrefour, tapi mampir makan dulu. Sambil jalan, kami berunding, mau makan di mana. Pilihan akhirnya jatuh ke Solaria di lantai 3 dekat Taman Sari Food Court. Lagi-lagi kami menemui situasi yang lengang kala memasuki tempat makan dengan interior mengarah ke minimalis modern ini. Pengunjung yang makan di tempat didominasi anak-anak muda. Untuk alasan kenyamanan, kami bertiga memilih duduk di bagian dalam.



Meja kami memiliki dua jenis kursi: sejenis sofa yang empuk dan kursi mirip rotan tapi kayaknya rotan tiruan yang ringan. Saya dan ibu duduk bersisian di sofa menghadap ke arah pintu utama, sedangkan bibi duduk di kursi mirip rotan. Di samping menyukai interior dan lightingnya, saya juga menyukai kebersihan Solaria. Barangkali sudah menjadi SOP bahwa tiap kali suatu ruang makan usai digunakan, ruang tersebut harus segera dibersihkan sebelum dipakai pengunjung berikutnya. Peralatan makannya diberesin dan area di sekitarnya langsung disapu. 


Kami pun disibukkan milih menu. Ibu pilih kwetiauw ayam siram dan juice sirsak, bibi pilih nasi cap cay dan juice sirsak, sedangkan saya pilih mie ayam teriyaki dan black currant. Nggak perlu nunggu lama, pesanan diantar bergiliran ke meja nomor 9, meja kami. Minuman dulu (juice sirsak 2 dan black currant-diantar sekaligus) disusul makanannya. Makanan yang datang pertama kali pesanan saya, mie ayam teriyaki, setelah itu giliran pesanan ibu dan bibi: kwetiauw ayam siram dan nasi cap cay. Selamat Makan! Sambil menikmati mie ayam teriyaki, saya cerita-cerita mengenai menu pilihan saya, yah!

Well, waktu liat penampakan Mie Ayam Teriyaki di depan mata, langsung batin saya teriak-teriak: kok, porsinya dikit, apalagi pas ngelirik punya ibu dan bibi. Iri, kenapa punya mereka porsinya banyak sedangkan punya saya dikit. Selain itu, saya pikir, yang namanya mie ayam bakal disajikan pakai mangkuk, tapi ternyata pakai piring ceper. Kemudian, waktu mencicipi kuahnya (disajikan terpisah di mangkuk kecil), terasa kurang garam sekaligus kurang ngaldu. Bagi saya yang punya kecenderungan menyukai masakan asin, kuah bertabur daun bawang yang terasa plain di lidah itu kurang mantap. Jadilah saya beranjak dari sofa demi meminta garam ke waitress. Setelah ditaburi garam, barulah rasa kuah tersebut mengikuti selera saya.

Terdapat 3 unsur makanan di piring ceper: mie, ayam teriyaki, dan salad sayur. Ayam teriyaki disajikan di atas mie sedangkan salad sayur berada di pojokan, dilambari daun selada. Mie-nya sendiri pakai model pipih agak keriting. Saya suka sama salad-nya, karena pengolahannya pas. Dari rasanya, saya menilai kalau sayurnya sudah "dilewatin" di air mendidih biar rasanya nggak berasa mentah, warnanya masih fresh, dan ketika dikunyah krenyes-krenyes. Walaupun cuma diberi mayonaise, salad sayur-nya boleh juga.

Giliran ayam teriyakinya, nih! Kesan saya setelah menikmati ayam teriyaki tanpa mie adalah ayam teriyakinya enak! Bumbunya merasuk, bahkan nge-blend sama mie-nya. Jika dibandingkan dengan ayam yang ada di kwetiauw ayam siram pesanan ibu, ayam teriyaki punya saya lebih enak. Lada hitamnya pun kerasa. Disimpulkan bahwa mie ayam teriyaki-lah yang paling enak di antara ketiga makanan pesanan kami. Huhuyyy! Saya pun tak lagi merasa kecewa. Rasa kecewa yang sempat terasa di awal kini berganti dengan penyesalan.

Menyesal karena salah trik!

Terceritakan di paragraf sebelumnya kalau kuah mie ayam teriyaki-nya kurang asin. Kesalahan saya adalah kenapa kuahnya tidak dicampur dulu ke mie baru dicicipin. Alhasil, saat kuah telah tercampur dengan mie dan ayam teriyaki barulah makanan saya terasa asin. Nah lo! Diraihlah black currant, minuman mirip anggur yang kecut-kecut segerrrr...

Salah trik, tetapi saya masih pengin balik lagi ke Solaria, tuh! Masih banyak makanan dan minuman yang harus dicicipi, biar makin banyak pengalaman bercengkerama dengan aneka hidangan khas resto yang memilih warna ungu sebagai warna branding-nya. Ada yang mau traktir saya di Solaria? []


6 komentar:

  1. wuihhh saya penggemar aneka mie mbak, mie ayam aja udah enak apalagi ditambah teriyakinya, maknyusss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tooosss! Saya juga suka makan mie ayam. Nggak masyalah mau mie ayamnya dijual di pasar, pinggir jalan atau mal. Yang penting mie ayam. Hehehe...

      Harus dicoba, Mbak!

      Hapus
  2. aku tuuh kalo ke Solaria, pasti mesennya Nasi ayam katsu teriyaki sauce, sampe temen-temen udah pada hapal, jadi udah ga nyodorin kertas menu lagi ke aku, langsung dipesenin aja hahahaha,
    kapan-kapan mau cobain yg Mie ayam teriyaki atau mie ayam katsu teriyaki ahh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai hapal ya hahaha
      Boleh, nih, kita tukeran menu. Kamu nyobain mie ayam teriyaki, aku nyobain nasi ayam katsu teriyaki sauce.

      Hapus
  3. aku juga mau ditraktir xixixi
    aku pesen sop ayam biasanya..enakk/...
    cuma beda solaria beda rasanya biasanya :v kadang ada yg enak kadang ada yang wakwawwwww

    BalasHapus
  4. biasanya saya kalau solaria makan kwetiau aja yang dapet banyak :D

    BalasHapus