My 7 Days Fruits Diary: 7 Hari yang Sangat Berkesan Bersama Buah-buah Sunpride

8 comments


Tentunya Tuhan punya alasan kuat menciptakan buah dan menjadikannya mudah ditanam dan mudah dikonsumsi untuk beragam tujuan. Hal ini tak lepas dari segenap manfaat yang tersimpan di dalam buah-buahan teruntuk kesehatan, kecantikan, gaya hidup serta ibu dan anak.
 
Satu, manfaat buah bagi kesehatan.
Detoks atau diet buah-buahan dipercaya mampu mereduksi risiko penyakit tertentu. Buah tertentu, seperti kesemek diduga membantu meningkatkan kesuburan karena kandungan tanin yang berperan dalam memperbaiki sistem organ tubuh; guava crystal sebagai sumber antioksidan pelawan kanker. Mulailah mengonsumsi buah-buahan seperti apel, melon, pepaya, guava crystal, kesemek atau anggur agar tubuh fit senantiasa.
Dua, manfaat buah untuk kecantikan
Bagi kaum perempuan yang gemar melakukan perawatan tubuh demi performa prima tentunya sudah tak asing lagi dengan kosmetik berbasis buah-buahan. Manggis dan bengkuang, misalnya mampu mengatasi timbulnya jerawat; Produsen kosmetik memetik nutrisi yang terkandung di dalam buah-buahan untuk dialih rupa menjadi masker, facial foam, lulur, sabun, hingga parfum. Lulur atau masker buah bisa dibuat sendiri di rumah lho!  
Tiga, manfaat buah di dalam lingkaran Human Lifestyle atau hidup manusia.
Dukungan buah terhadap kelangsungan gaya hidup modern manusia tampak dari keterlibatan buah untuk camilan sehat. 
Empat, manfaat buah bagi ibu dan anak.
Buah begitu bersahabat bagi ibu hamil dan bayi. Bagi ibu hamil, konsumsi semangka berguna untuk mencegah dehidrasi, meredakan morning sickness, dan mengurangi keram otot. Adapun manfaat buah bagi si kecil, antara lain menyembuhkan dispepsia dan sebagai sumber vitamin, mineral, dan antioksidan guna mendukung tumbuh kembangnya. Berikan buah sebagai makanan pendamping ASI (MPASI) dalam bentuk pure atau bubur.

Konsumsi buah secara harian memang disarankan untuk membentuk pola makan seimbang sesuai kebutuhan tubuh. Healthy Eating Plate, misalnya, memasukkan buah bersama sayuran (vegetables), gandum (whole grains), protein yang menyehatkan (healthy protein), air (water), dan minyak yang menyehatkan (healthy oils). Pun, di dalam piramida makanan sehat, buah ada di dalam susunannya. Dianjurkan pula, buah dikonsumsi beraneka warna. Tentunya bukan hal yang sulit, bukan, mengonsumsi buah beraneka warna? Sebab, ibu pertiwi telah menyediakan buah-buahan, baik yang bermusim maupun yang berbuah sepanjang tahun.

Bersepakat dengan Koes Plus, Indonesia memang negeri kolam susu, di mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman (buah). Setiap jengkal tanah surga mampu menghasilkan tanaman (buah) yang menghidupi banyak orang. Menghidupi dalam arti sebenarnya dan menghidupi secara finansial. Buah lokal Indonesia saja bisa tumbuh dengan mudah, apalagi buah hasil budi daya. Tak heran bila negeri jiran Singapura tertarik mengimpor buah-buah lokal dari Indonesia seperti markisa, jeruk pamello, dan durian sulawesi (Kompas, Kamis, 13 Agustus 2015). Kita wajib bersyukur karenanya. Berarti, buah-buah dari Indonesia, dari segi kualitas, dihargai di tingkat perdagangan internasional.

Bila penduduk Singapura saja mengonsumsi buah-buah lokal Nusantara (baca: Indonesia) bagaimana dengan penduduk Indonesia sendiri? Mengutip dari Femina, konsumsi sayur dan buah orang Indonesia hanya 93 g/orang/hari, jauh berada di bawah angka konsumsi sayur dan buah penduduk Singapura, yakni 518 g/orang/hari. Jauhnya pakai banget, ya! Benar, padahal, idealnya tiap orang membutuhkan 75 kg buah/tahun atau sekitar 205 g/orang/hari. Angka ideal tersebut dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO).

Untuk memenuhi angka ideal tersebut, konsumsi buah kudu digenjot. Namun, hendaknya konsumsi buah jangan sekadar mengejar angka ideal, melainkan dilakukan atas nama kesadaran. Sadar penuh bahwa buah-buahan hadir ke tengah-tengah manusia lantaran memiliki faedah bagi tubuh. Jika selama ini emoh menikmati buah-buahan atau malas mengolah buah-buahan, mari, kita sama-sama merombak cara mengonsumsi buah-buahan. Caranya bagaimana?

Artikel saya yang diberi judul My 7 Days Fruits Diary: 7 Hari yang Sangat Berkesan Bersama Buah-buah Sunpride akan menjawab pertanyaan "bagaimana" tersebut. Di dalam artikel ini, saya akan berbagi cerita tentang buah-buahan secara umum terlebih dulu, kemudian diikuti dengan pengalaman mengonsumsi buah-buah Sunpride selama 7 hari berturut-turut. Tujuh hari berturut-turut mengonsumsi buah-buahan? Iya, nggak percaya? Kalau masih nggak percaya, silakan scroll down saja. Hehehe. Akhir kata, semoga tulisan yang jauh dari kata sempurna ini bisa menjadi media berbagi mengenai buah-buahan terlebih cara mengonsumsinya. 

BUAH, WARNA-WARNI YANG MENGINSPIRASI
Buah ternyata memiliki pengaruh demikian hebatnya. Akibat kemelekatan buah di setiap sendi kehidupan manusia, mengilhami tumbuhnya karya kreatif di ladang semesta. Dapat dikatakan, di mana ada buah, di situ tumbuh kreatifitas.
Buah dan Seni lukis
Buah mengundang datangnya ide segar bagi para seniman lukis untuk membuat gambar natural buah-buahan hingga dikenal istilah still life, bodegon atau naturaleza muerta (Spanish art), serta nature morte (Perancis) sebagai deskripsi terhadap inanimate painting of subjects. Subjek senada turut dikembangkan oleh para seniman lukis Tiongkok pada awal abad ke-13 dengan melukis bunga, buah atau seekor-dua ekor kuda. 

Tidak hanya memperpanjang karir kepelukisan, buah turut ambil bagian dalam membentuk career path calon pelukis kenamaan Tanah Air. Hendra Gunawan, pelukis kelahiran Bandung, 11 Juni 1918, pada masa kecilnya banyak berlatih dengan menggambar buah-buahan, bunga, wayang serta bintang film. Apa yang dikerjakannya menjadi pijakan kuat hingga menjadikannya pelukis berpengaruh pada masanya.

Buah dan Seni suara
Buah-buahan menginspirasi para seniman musik menciptakan lagu bertema buah-buahan dengan berbagai aliran musik dari pop sampai keroncong, sebut saja 
* Papaya Cha-cha | 1955 | Grace Simon
* Banana Boat Song | 1956 | Harry Belavonte
* Buah Duri Neraka | Rhoma Irama-Soneta
* Simalakama | Yoppie Latul |
* Demi Kau dan Si Buah Hati | Pance Pondaag
* Pepaya, Mangga, Pisang, Jambu | Dhea Ananda
* Watermelon Song, Manggo Fruit Song, Strawberry Fruit Song, Five Little Fruits | Nursery rhymes 
Buah dan Karya tulis
Masuk ke gramedia.com, akan ditemui berbagai judul buku tentang buah-buahan yang ditujukan bagi pembaca cilik, remaja, hingga dewasa. Apa saja? Berikut ini sedikit contoh yang bisa saya hadirkan.
* Buah Naga: Buah Sehat Kaya Khasiat | Hindah Muaris | Gramedia Pustaka Utama
* Buah Fruit Indonesia Inggris: Smart Baby Book | Cathy Allen | CIKAL AKSARA
* Panduan Praktis Bertanam Buah di Lahan & Pot | Ir A. F. Marginasari Tim Mekarsari |Penebar Swadaya
*
Siapa Yang Terhebat & 7 Cerita Seru Lainnya Di Negeri Fruitanzia | Watiek Ideo | Bhuana Ilmu Populer
* Sobek Tempel & Mewarnai Fruits | Narendra | Rumah Ide
Buah dan Dunia Kuliner. Kesempatan seluas mungkin diberikan buah untuk diolah jadi menu makanan dan minuman. Resep buah olahan begitu mudah ditemukan di buku resep yang dijual di toko buku, rubrik memasak di media cetak, program kuliner di televisi, milis, grup daring, website, dan video tutorial. Ada yang diperoleh secara gratis, tapi ada juga yang berbayar.
* Dragon Fruit & Lychee Drink
* Carrot, Turmeric, and Rosemary Drink
* Pineapple and Starfruit Drink
* Pomegranate and Passionfruit Drink
* Berry & Coconut Water
* Soursop & Lemongrass Drink
* Pear & Kyuri Drink
* Avocado & Horenso Drink
* Banana Oat
Buah dan Bahasa. Buah menginspirasi lahirnya ungkapan dan peribahasa. Ungkapan dengan menyertakan kata "buah" dirangkum menjadi Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia oleh Abdul Chaer (2002) dengan ungkapan buah bibir, buah hati, buah kalam, buah mata, dan buah pena di dalamnya. Sedangkan Dr. JS Badudu (1982) dalam buku Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia menyusun ungkapan-ungkapan berunsur buah dalam bentuk kalimat contoh, seperti 
* Buah bajunya semua terbuat dari plastik berwarna (kancing)
* Kalau ayah pulang dari bepergian, selalu ada saja buah tangannya (oleh-oleh, bawannya)
* Buah tangan siapakah lukisan seindah ini? (hasil karya)
* Buah pikiran yang dikemukakannya dalam rapat itu sangat berguna (pendapat)
* Gadis yang cantik itu sudah lumrah bila menjadi buah tutur pemuda-pemuda di kampung itu. (buah bibir)
Adapun di dalam dunia peribahasa, dikenal berbagai kalimat peribahasa dengan kata "buah"
* Sebab buah dikenal pohonnya (dari perbuatannya dapat diketahui tabiatnya)
* Buah masak tergantung tinggi, akan dijolok penggalah singkat, akan ditingkat batangnya licin (tak berdaya untuk mencapai yang dicita-citakan)
* Bagai buah keras di dalam sekul (bercakap dengan tergopoh-gopoh)
* Laksana buah masak lum, dihinggut (digoyang) perdu luruh sendiri (barang tua dengan sedikit tenaga, rusaklah ia)
* Seperti buah masak seulas (malu dan segan karena berhutang budi)
Buah dan tayangan visual. Di kemudian hari, buah-buahan dibawa ke ranah visual dalam kemasan film kartun. Dalam satu paket tayangan, penonton mendapat hiburan sekaligus edukasi soal buah-buahan. Contoh: Snow White (1937), Masha dan the Bear, Minions, Banana in Pyjamas, Upin-ipin, serta tayangan kartun bertema buah-buahan untuk anak-anak yang bisa ditonton di kanal Youtube.

FAKTA MENARIK BUAH-BUAHAN
Buah tidak hanya menyimpan nutrisi dan zat-zat penting yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup makhluk hidup (saya sebut makhluk hidup karena konsumen buah tidak hanya manusia), melainkan juga fakta-fakta menarik yang berhasil saya kumpulkan berikut ini.

Fakta #1 Buah adalah sumber pangan yang tidak menimbulkan sampah 
Buah-buahan merupakan sumber pangan ramah lingkungan karena tidak berpotensi menimbulkan banyak sampah. Sisa konsumsi buah-buahan berupa kulit, biji atau tangkai buah dapat dijadikan kompos. 

Fakta #2
Buah masa kini datang dari buah-buahan di masa lalu 
Buah-buahan yang kita nikmati ternyata telah menjelajah beribu kilometer dari tempatnya tumbuh pertama kali, karena buah dan sayuran masa kini berasal dari proses budi daya dan seleksi yang panjang, yakni seribu tahun lamanya.

Bentuk buah saat ini bisa jadi berbeda dengan bentuk buah di masa lampau. Strawberry, pisang, dan buah sitrus menjadi contoh buah-buahan yang telah mengalami evolusi. Untuk mengetahui asal muasal tanaman buah dan sayur, para ilmuwan menelusuri jejaknya dengan cara mengandalkan genom dan rekam budaya. 

National Geographic Indonesia edisi Agustus 2015 memuat jejak buah di masa lalu. Diketahui bahwa avokad berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah; Anggur dikembangkan di Kaukasus Selatan; Apel berasal dari Asia Tengah; Buah Sitrus dan Tangerine dari buah di primitif di Asia Timur; Nanas berasal dari Amazon; dan Pisang berasal dari Nugini.
  
Fakta #3 Buah dapat dibeli di mana saja
Mudah bahkan saya bilang, sangat mudah membeli buah-buahan. Konsumen bisa membeli buah-buahan di tukang sayur keliling, kios buah, lapak buah, warung, pasar, minimarket, supermarket, dan hipermarket.

Fakta #4 Buah untuk sesaji pernikahan
Dengan bentuk fisik yang masih teraba indera, buah masuk ke dalam ritus daur hidup manusia yakni pernikahan. Kitab Primbon Betaljemur Adammakna (2001), menuliskan bahwa buah dijadikan srana slametan penganten, sarat lan sajen mantu, dan sanggan penganten. Adapun buah-buahan yang dimaksud adalah gedhang mas (pisang mas), gedhang raja (pisang raja), gedhang pulut (pisang pulut), jambu kluthuk (jambu biji), dan bengkowang (bengkuang).

Fakta #5 Buah dapat dinikmati dengan berbagai cara
Buah menawarkan beragam cara untuk menikmatinya seperti dimakan tanpa dikupas, dikupas-potong-makan, dikupas atau dihilangkan kulitnya-makan, langsung dimakan, dan dicampur bersama bahan makanan lain dengan bentuk fisik buah masih tampak.

Fakta #6 Buah terdapat di dalam berbagai produk yang dikonsumsi oleh manusia
Namun, buah tidak lagi tampak secara fisik karena telah berubah wujud. Hanya sebagian kecil saja yang masih bisa dikenali, keripik contohnya. Sedangkan yang lainnya dikenali lewat citra buah yang dideteksi oleh indera penciuman dan perasa. Saya mencatat berbagai produk yang mengandung rasa atau unsur buah-buahan.
Permen, permen karet, permen lolipop, marshmallow, selai, biskuit, wafer, keripik, susu, yogurt, minuman sari buah/juice kemasan, ice cream, jelly, jelly stik, puding, crepes, minuman penyegar panas dalam, minuman serbuk, lulur, pembersih wajah, parfum, sabun mandi, hand & body lotion, sabun cuci tangan, cairan pencuci piring, pembersih perlengkapan dapur, pelembut & pengharum cucian, pembersih lantai, sabun colek, essential oil, essential scrub, body scrub cream, aromatherapy, obat kumur, minuman penambah energi, minuman teh, minuman suplemen, minuman nata de coco, minuman buah cocktail, manisan, asinan, dodol, bakpia, sirup, perisa pasta & aroma pasta, multivitamin anak, soft drink (minuman berkarbonasi), madu, bubur bayi, biskuit bayi      
Fakta #7 Ada teknik pengolahan buah
Bosan dengan buah potong atau juice yang itu-itu saja? Dengan teknik pengolahan sederhana, buah bisa diolah menjadi bermacam sajian seperti buah kering, selai, keripik, smoothie, puding, manisan, sirup, infused water, maupun fruit ice cube. Bagi para orang tua yang memiliki bayi mulai berusia 6 bulan ke atas dan sedang mengenalkan makanan pendamping ASI (MPASI), buah-buahan bisa diolah menjadi pure atau bubur.
* Manggo banana smoothie
* Puding Putih Sutera
* Puding Lapis Saus Santan
* Puding Mangga-Markisa
* Puding Fruit Cocktail
* Puding Melon Saus Yogurt
Fakta #8 Hari buah internasional
Masyarakat internasional menetapkan 1 Juli sebagai International Fruit Day. Pertama kali dirayakan di Jerman, 2007 silam, International Fruit Day bertujuan untuk 
berbagi buah dan sayur dengan sesama dalam sebuah hidangan. Demi terjalinnya solidaritas dan menciptakan pertukaran budaya. (sumber dari sini)
Fakta #9 Festival buah di beberapa negara
Buah ditambah kemeriahan sama dengan suka cita yang dirindukan banyak orang. Melalui buah-buahan, hadirlah event festival buah yang digagas berbagai negara. Tentunya ada banyak acara yang menarik untuk diikuti.
* Festival Bunga dan Buah Nusantara | Bogor, Indonesia | 15-18 Oktober 2015
* The Raw Fruit Festival | Andalusia, Spain | 30 Agustus-5 September 2015
* The Woodstock Fruit Festival | New York | 16-23 Agustus 2015
* International Mango Festival | India | 30 Juni-2 Juli 2015
* Jambore Melon | Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur | Juni 2015
The Woodstock Fruit Festival
The Woodstock Fruit Festival

Fakta #10
Panggilan kesayangan
Tidak hanya terasa nikmat di lidah, buah terasa pas untuk merepresentasi perasaan seseorang. Maka, jadilah buah sebagai panggilan kesayangan pada lingkup sosial paling dekat.


Satu contoh, ibu saya pernah memanggil saya dengan sebutan "buah manggis" padahal "buah manggis" tidak terekam di dalam akta kelahiran saya. Aneh, memang, tapi begitulah kenyataannya. Hahaha.

Panggilan sayang rupanya bukan hanya "buah manggis". Dalam lagu nursery rhyme berjudul Apple, panggilan sayang ibu ke anaknya adalah "the apple of her eye". "The apple of her eye" merupakan idiom merujuk pada seseorang yang sangat dicintai dan dibanggakan.

Hmmm... kalau ibu kita memanggil dengan panggilan "the apple of her eye", jangan keburu berpikir negatif kalau di matanya kita seorang yang bertubuh gendut seperti buah apel, ya. Berbanggahatilah bila suatu ketika Anda mendengar ibu memanggil dengan idiom tersebut.
 
SAYA DAN BUAH-BUAHAN: SEKELUMIT CERITA
Kawans, masihkah kau ingat kapan pertama kali makan buah? Kalau saya, sih, sangat tidak ingat. Tiadanya catatan tertulis bersejarah makin membuat saya gagal tahu, kapan momen-momen pertama kali mengonsumsi si warna-warni bernutrisi itu. Pastinya, saya telah membuat chronicle yang sangat panjang, ya. Pakai perhitungan kasar, main kira-kira saja, andaikata saya mengonsumsi buah-buahan saat umur 6 bulan dan sekarang saya berumur 30 tahun, berarti saya telah berkawan dengan buah selama 354 bulan! Namun, kalau dipikir-pikir, kebersamaan saya dengan buah bisa jadi tiga puluh tahun lho! Nggak percaya? Lihat foto di bawah ini.


Salam Fruitaholic Buat Semuanyaa!
Ini adalah foto saya (pakai rok warna merah) bersama kakak-kakak sepupu dan adik laki-laki, mengambil lokasi di kebun belakang rumah yang saya tinggali sampai saat ini. Lihat, di belakang empat orang anak tersebut, terdapat deretan pohon pisang. Ya, itulah pohon pisang harta kami sekeluarga, berjenis kepok kuning. Berseberangan dengan posisi foto kami (tidak tampak di dalam foto), berdiri menjulang sebuah pohon mangga yang buahnya kerap menjadi rebutan. Nah, logika 30 tahun kebersamaan dengan buah-buahan, ya, berdasar keberadaan pohon-pohon buah tersebut. Sebab, pohon-pohon buah tersebut, yang disinyalir lebih tua usianya dibanding saya, telah tumbuh sejak saat saya masih kecil.

Suatu ketika, rumah mengalami renovasi. Pisang dan mangga terpaksa ditebang hingga habis tak bersisa. Sedih, iya, tapi roda kehidupan harus terus bergulir dan mengikuti roda kehidupan, bangunan tempat berteduh juga musti diperbaiki agar memberi kenyamanan hidup. Sepeninggal pisang dan mangga, tanah surga kami masih mampu menghasilkan sirsak, pepaya, sirkaya, dan sekarang jambu cincalo yang belum juga berbuah. Nunggu buahnya lama bangettt! Kami harus bersabar menanti buah pertama dinikmati. Selain pohon jambu cincalo, kebun kami menghasilkan tanaman TOGA seperti sirih dan beluntas. Adapun di dalam pot, tumbuh benih avokad.

Bisa dikata, hidup saya dikelilingi buah-buahan. Di lingkungan rumah, dulu ada Mbah Soma yang jualan pisang dan pepaya (darinya saya mengenal kata "kates jingga" atau pepaya (yang telah berwarna jingga pertanda matang sempurna); ada lelaki penjual lotis keliling; Budhe Endang, mantan tetangga yang berjualan manisan buah, sup buah, dan ice juice; Mbah Pin yang (pernah) jualan ice juice di pinggir jalan (es-nya diserut); Budhe Murtini yang sup buah di bulan Ramadhan; Mbak Yuni yang jualan ice juice; serta ibunya Fendy yang (pernah) jualan ice juice. Merekalah yang mengenalkan dan menjaga agar tak tercipta jarak antara saya dan buah-buahan.


Nggak di rumah, nggak di sekolah. Waktu masih jadi pelajar SD, saya dan adik pernah diberi jambu biji oleh nenek teman sekelas adik saya. Jambu berukuran besar itu akhirnya dimasak jadi setup jambu. Beranjak ke masa SMA, buah menjadi salah satu jajanan favorit. Bila uang saku tidak mencukupi untuk membeli semangkok mie ayam, buah potong dijadikan alternatif pengganjal perut sampai jam istirahat berikut atau menjelang pulang sekolah. Pepaya atau melon, yang dikemas di dalam plastik bening, dimakan langsung atau diberi tambahan bumbu lotis bersambal. Kenyang tapi ngirit! Hahaha.

Konsumsi buah terus berlanjut sampai hari ini. Diakibatkan faktor harga yang tak murah, buah lokal selalu dijadikan pilihan utama. Prinsip berkata, lokal pun tak apa-apa, asalkan permintaan tubuh melahap buah-buahan bisa terpenuhi. Itulah sebabnya, buah lokal, yang dijajakan oleh tukang sayur langganan, selalu menjadi primadona. Buah apa pun yang dibawa lelaki asal Brebes itu menjadi konsumsi saya dan anggota keluarga di rumah. Dengan harga sekian ribu rupiah saja, tak melebihi angka sepuluh ribu per paket penjualan, uwong kampung ini sudah bisa menikmati pir, apel, melon, pisang, semangka, jambu, pepaya maupun jeruk.

Buah lokal nan murah tadi biasa dikonsumsi secara konvensional. Pisang misalnya, hanya dijadikan sebagai buah meja yang dikudap selepas makan atau dijadikan camilan. Kalau mau makan tinggal dipotek. Melon, pepaya, semangka atau pear paling banter daging dipisahkan dari dari kulitnya kemudian dipotong-potong dan dimakan langsung. Adapun si jambu biji diubah jadi minuman juice. Standar banget, ya?! Sampai hapal pokoknya.  

Satu-satunya teknik makan buah secara kreatif itu saat makan mangga. Mangga dipotong tebal bersama kulitnya. Kemudian bagian daging diiris dan dijembreng. Kami sekeluarga menyebutnya omah tawon (rumah lebah). Waktu saya dan adik-adik masih kecil, untuk menarik perhatian kami agar mau makan buah, ibu bikin omah tawon. Saya dan adik-adik pun terbiasa request omah tawon. Satu buah mangga berukuran sedang sampai besar bisa dibuat jadi sepasang omah tawon yang jadi rebutan. Omah tawon itu buat kami, sedangkan ibu hanya kebagian daging yang melekat pada biji mangga. Tidak hanya manis dan menyehatkan, omah tawon yang satu ini pasti aman, karena tidak menimbulkan risiko sengatan. :)

Ya, kalau dipikir-pikir, meski menyehatkan, tapi kalau disajikan begitu-begitu saja lama kelamaan bakal bosan. Benar saja, buah yang biasa habis dalam hitungan jam, suatu waktu pernah melewati malam baru habis di hari berikutnya. Itu pun yang menghabiskan kalau nggak ibu ya bibi. Mudah bosan, saya pun berangan-angan, eh, sekali-sekali, bikin acara makan buah anti manstream, dong! Yang kreatif dan menyenangkan, biar nggak monoton.

MY DIARY: 7 HARI BERSAMA BUAH-BUAH SUNPRIDE

Gayung bersambut. Sunpride memberi tantangan mengonsumsi buah-buahnya selama 7 hari full! Dan saya bersetuju memenuhi tantangan tersebut. Ayo aja! Dua hal yang dilakukan, pertama, karena saya tahunya cuma Pisang Cavendish, maka saya pun mengunjungi website Sunpride untuk mengetahui sekaligus mengenali apa saja, sih, buah-buah Sunpride. Kedua, susun jadwal berisikan makanan olahan berbasis buah-buah Sunpride. Yak! Draft menu konsumsi buah-buah Sunpride rampung disusun. Saya pun akan menjadi konsumen loyal buah Sunpride selama 7 hari berturut-turut, terhitung mulai 11 hingga 17 Agustus 2015. Simak kisah 7 hari mengonsumsi buah Sunpride berikut.

[Day #1, Selasa, 11 Agustus 2015]
Selamat hari pertama menikmati buah Sunpride

Mengikuti daftar menu yang telah disusun, hari pertama saya berencana bikin setup jambu crystal, nih! Minuman setup jambu crystal tidak hanya segar, tetapi juga menyehatkan, karena terdiri atas buah jambu crystal yang mengandung vitamin C, senyawa lycopene, dan kalium; serai yang berguna untuk mempertahankan tingkat kolesterol; dan cengkeh yang bermanfaat untuk pengobatan berbagai penyakit.


Kalau biasanya, tiap kali bikin setup jambu, jambunya pakai jambu biji biasa yang banyak bijinya. Sekarang, giliran pakai jambu crystal alias guava crystal dari Sunpride yang dikenal sebagai jambu biji minim atau tanpa biji (seedless). Sebelum membuat setup jambu crystal, saya harus membelinya dulu di Carrefour Ambarrukmo Plaza. Senin (10/8), saya telah menghubungi Carrefour dan diberitahu kalau jambu crystal bakal datang hari Selasa (11/8) jam 12 siang. Ok, I'll wait patiently. :D

Sebelum menjemput si jambu crystal, jam 9.30 saya ke Pasar Kranggan dulu beli serai. Sampailah saya di pasar kebanggaan warga Yogyakarta itu. Saya langsung menuju tempat penjualan bumbu dapur dan bahan jamu. Serai bisa dibeli secara eceran atau per-ikat sesuai kebutuhan. Pun, serai bisa dibeli paketan, bersama dengan kumpulan bumbu dapur yang dikemas pakai plastik bening lalu disemat lidi. Harga jualnya berkisar Rp500-Rp1.300, tergantung kelengkapan dan jumlah bumbu dapur di dalam kemasan paket.

Sebenarnya, di Pasar Kranggan, serai tidak hanya dijual oleh penjual bumbu dapur dan bahan jamu. Terlihat, ada bakul yang jualan serai meski dia tidak jualan bumbu dapur dan bahan jamu. Dengan pertimbangan banyak pilihan, saya memantapkan diri beli serai di tempat penjual bumbu dapur dan bahan jamu. 

Keputusan saya tidak salah. Perempuan penjual yang saya datangi punya stok serai banyak, bersih, dan bonggolnya besar-besar! Uang koin seribu rupiah yang diangsurkan kepada penjual ditukar dengan 5 buah serai (bonggol besar 4, bonggol sedang 1). Berarti, sebijinya dihargai dua ratus rupiah, ya. Lebih murah ketimbang kerupuk rumput laut pedas yang dibeli di warung. Hehehe.

Usai membeli jambu crystal, saya berduet dengan ibu membuat setup jambu crystal Sunpride. Jambu crystal dikeluarkan dari "sangkar"nya, dipotong-potong, lalu dibersihkan. Tak lupa, serai dan cengkehnya dicuci sampai bersih. Waktu yang diperlukan dalam membuat setup jambu terhitung cepat. Didihkan air di dalam panci, lalu masukkan serai dan cengkeh. Setelah air mendidih, cemplungkan potongan jambu crystal. Didihkan sebentar. Matikan kompor dan angkat panci dari atas kompor. Jambu crystal yang semula berwarna hijau berubah menjadi kekuningan.

Setup jambu crystal yang berada di dalam panci ukuran sedang pun menjadi konsumsi bersama. Ketika dicicipi, jambu crystal Sunpride tetap renyah meski telah dimasak. Di samping itu pula, sepanjang menikmati setup jambu crystal Sunpride, tidak banyak "jebakan". Beda banget kalau jambunya pakai jambu biji varietas lainnya. Nah, kalau musim hujan telah tiba, setup jambu pas dinikmati di tengah dingin suasana. Cepat, gampang, praktis.

Manfaat jambu crystal tidak hanya sebatas hidangan rumahan semata. Tahukah Anda bila si buah tropis berwarna hijau dan berbentuk bulat atau oval ini mengandung senyawa lycopene 20% lebih besar dibandingkan tomat? Bahkan senyawa antioksidan ini tidak akan hilang setelah jambu crystal dimasak. Artinya, ketika menjadi setup pun, kita tidak akan kehilangan senyawa berharga pada jambu crystal. Selain itu juga, jambu crystal mengandung kalium 60% lebih banyak daripada pisang! 

Tahu begitu satu panci dihabisin sendiri, ya. Nggak, ding, bercanda. Hehehe. Beruntung sekali mendapat kesempatan mengonsumsi jambu crystal. Investasi kesehatan telah dimulai sejak hari pertama. Besok beli lagi, ah!


Berfoto Bersama Jambu Crystal Sunpride
Foto: Dokumen Ratri Puspita
  
[Day #2, Rabu, 12 Agustus 2015] 

Happy B'day, Mommy! 

Hari ini, Rabu, 12 Agustus 2015, ibundaku genap berusia 62 tahun. Selain ulang tahun ibunda, hari ini menjadi hari keduaku berpetualang rasa buah-buahan Sunpride. Hari ini berencana mewujudkan resep mango soya smoothies yang didapat dari Tabloid Nova edisi 1433/XXVIII 10-16 Agustus 2015. Buah Sunpride-nya cuma butuh pisang cavendish saja. Cavendish merupakan buah yang gampang dicari. Hampir di semua supermarket yang kutelepon dan kudatangi menyediakan buah yang masih satu keluarga dengan pisang ambon ini.

Pagi hari saya menelepon Superindo Jalan Sultan Agung Yogyakarta untuk menanyakan ketersediaan buah-buah Sunpride. Suara di seberang mengatakan kalau buah Sunpride yang tersedia adalah nanas honi, pisang, dan jambu. Fixed! Saya pun bersiap menjemput buah Sunpride. Naik apa? Yang jelas tidak naik delman istimewa, tapi naik bis kota jalur 4!

Tibalah jua di supermarket yang berada di selatan Yogyakarta, tak jauh dari bioskup legendaris Permata dan museum biologi. Girang hati saya tatkala menemui buah-buahan Sunpride seperti nanas honi, pisang cavendish, dan rock melon alias melon red sweet. Ketiganya langsung dikumpulkan ke dalam keranjang belanja model tarik warna merah dengan pegangannya berwarna hitam. Bersama dengan ketiga buah Sunpride, saya sekalian belanja mangga harumanis, susu kedelai, dan plain yogurt untuk membuat smoothies.


Sesampai di rumah, bahan-bahan smoothies diolah. Mangga harumanis dan pisang cavendish dihilangkan kulitnya, dipotong-potong, lalu didinginkan di dalam freezer hingga membeku. Suhu kulkas menunjukkan 3 derajat Celcius pada bagian refrigerator dan minus 13 derajat Celcius pada bagian freezer.

Setelah beku, mangga harumanis dan pisang cavendish potong tadi dimasukkan ke dalam blender diikuti susu kedelai, yogurt, madu, dan es batu secukupnya. Untuk proses pemblenderan, pertama pakai mode "ice" dulu. Kalau es batunya sudah hancur, ganti pakai mode "smoothies". Hasil jadinya berupa smoothies yang kental, lembut, dan madunya agak mendominasi. 

Pemilihan pisang cavendish dari Sunpride tentunya disertai alasan yang kuat. Buah tropis paling populer di dunia ini mengandung serat, karbohidrat, kalium, prebiotik, tripofan yang berguna untuk menyehatkan saluran cerna, relaksasi, meningkatkan fungsi ginjal, memperkuat tulang, menurunkan tekanan darah, meningkatkan energi, menyehatkan penglihatan, sekaligus memengaruhi mood. Dengan segenap zat penting dan manfaat dari pisang cavendish, tak salah bukan saya memilihnya?



[Day #3, Kamis, 13 Agustus 2015]

Pagi hari dibuka dengan aktifitas berburu buah Sunpride ke Yogya City Mall. Sekitar jam 9:00 pagi, saya sudah keluar rumah dan jalan kaki menuju tempat menunggu bis yang akan membawa saya ke pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jalan Mangelang 18, berdekatan dengan Hotel Sahid Rich Yogyakarta.

Bis D6 trayek Maguwo-Jombor datang juga. Waktu saya naik, di dalam bis berukuran medium itu  hanya ada sopir dan seorang perempuan penumpang. Tampaknya pagi belum menjanjikan banyak rezeki bagi sang sopir, yang bekerja tanpa asistensi kernet, karena hingga 15 menit perjalanan mencapai tempat tujuan, tidak ada satu tangan pun melambai-lambai di pinggir jalan. Setelah saya dan perempuan tadi sama-sama turun, bis pun kosong dari penumpang.

Berpacu dengan waktu, saya segera memasuki mall berarsitektur klasik itu. Ternyata kedatangan saya kepagian! Niat banget nggak, sih, demi Sunpride, untuk menuju supermarket, bukanya lewat lobby, malah dianjurkan security lewat parkiran. Bukti kepagian berikutnya adalah saya melintasi travelator yang belum sempat dinyalakan. Hahaha. Dan sampailah saya di dalam hipermarket yang masih lengang. Duh... duh... duh... Berasa pegang VVIP shopping card.

Kedatangan saya pure mengandalkan informasi dari suara laki-laki di seberang telepon yang mengatakan bahwa hipermarket tempatnya bekerja punya stok pepaya california. Stoknya banyak! Benar apa katanya! Pepaya california-nya ada banyak! Masih utuh atau sudah dibelah, keduanya tersedia. Mau yang masih hijau dan keras untuk dikonsumsi beberapa hari ke depan atau yang siap dikonsumsi hari ini, ada! Ukurannya pun beragam. Tak hanya pepaya california saja, buah-buah Sunpride lainnya macam jambu crystal, pisang cavendish, pisang mas, rock melon, golden melon, nanas honi, dan singo pear pun ada! Wow!

Serasa beroleh harta karun, langsung saya mengambil keranjang belanja yang tersedia tak jauh dari tempat berdiri. Kemudian, dimasukkanlah pepaya california (labelnya tercetak California Papaya), golden melon, dan pisang mas ke dalamnya. Karena pepaya california masih akan dikonsumsi Sabtu mendatang, sengaja saya pilih yang agak mengkal tapi sudah terlihat semburat kekuningan tanda buah mulai matang. Demikian pula dengan pisang mas. Saya pilih yang belum terlalu masak. Puji Tuhan, tak hentinya saya bersyukur. Kesempatan mencicipi buah premium Sunpride tak lama lagi menjadi kesempatan meski harus berjuang mencarinya dari supermarket ke supermarket dan diwarnai shopping kepagian. Hahaha.

Sore harinya, saya membuat juice rock melon. Melon dikupas, dipotong, lalu dicuci bersih. Hmmm... Belum juga masuk blender, potongan melon berwarna orange segar itu keburu dikorting, karena dicemal-cemil sama bibi. Beliau ketagihan karena rock melon dari Sunpride itu katanya rasanya manis dan dagingnya crunchy. Ya, betul, ketika saya cicipi buah berkulit seperti jaring kepang itu memang manis. Mantap! *dua jempol*

Varian melon, yang sempat yang dikira labu oleh seorang ibu itu, akhirnya masuk blender ditemani sedikit susu kental manis dan gula. Airnya pakai air dingin dari kulkas. Hasil jadinya, meski melon diblender bersama susu kental manis dan gula, rasa melonnya tidak hilang. Pun, terdapat semacam "pulp" yang berasal dari daging melon yang tak terblender sempurna. Kesegarannya maksimal dengan ditambahkannya es batu. Slurrpppp.... nambah lagi... nambah lagi... tuang lagi sampai habeesss... gleg... gleg... gleggg...



Sebagai anggota dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae), rock melon dari Sunpride memiliki faedah mencegah kanker, mencegah sembelit, menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, mencegah penggumpalan darah, menyembuhkan eksim, dan mencegah dan menyembuhkan panas dalam.

[Day #4, Jumat, 14 Agustus 2015] 

Hari keempat mengonsumsi buah Sunpride, saya ingin mengubah nanas honi atau nanas madu menjadi selai biar bisa jadi teman makan roti tawar saya dan keluarga. Di samping itu pula, untuk menyediakan kudapan sehat sekaligus mengenyangkan bagi ibu biar maag-nya tidak kambuh.


Bukan hal pertama membuat sendiri selai nanas, tetapi membuat selai dari nanas honi bakal menjadi pengalaman perdana bagi saya dan keluarga. Terbit rasa penasaran akan proses pembuatannya nanti sampai hasil jadinya. Apakah sama seperti ketika kami membuat selai nanas dengan menggunakan nanas lokal yang dibeli di pasar? Ataukah ada perbedaannya? Semoga saja tidak gagal di tengah jalan...

Nanas honi, seperti apa bentuknya? Saya benar-benar buta soal nanas yang satu ini. Bibi saya mengatakan bahwa nanas honi itu bentuknya besar, lebih besar dari nanas kebanyakan, dan rasanya manis. Nenek saya mengenali nanas honi sebagai nanas bogor. Ah, biarpun diberitahu sampai detail sekalipun, tetap saja saya belum "ngeh" kalau belum lihat fisiknya secara langsung. Berbekal informasi by telepon dan rekaman gambar nanas honi dari situs Sunpride, saya pun memburu nanas honi naik bis jalur 4,  menuju supermarket yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, Yogyakarta.



Menyusuri jalanan Kota Yogyakarta yang telah bersolek demi menyambut Hari Kemerdekaan yang akan datang dalam hitungan hari ke depan, perasaan saya tak menentu. Harap-harap cemas, takut tidak kebagian nanas honi (sampai-sampai, saya turunnya agak kebablasan. Untung diingatkan sama mas kernet). Kalau kehabisan, saya harus ngider lebih jauh lagi. Masuk ke tempat belanja yang berbeda. Oh, Nooo! Namun, rencana Tuhan tetaplah berbeda dengan pikiran manusia. Usai melewati segala rupa halang dan rintang, finally, saya bisa mendapatkan, eh, membeli nanas yang diklaim sebagai The Sweetest Pineapple in The World itu dengan merogoh kocek Rp26.950. Oalah... ini ta, yang dinamakan nanas honi... Gedhe temen *katrok*. Hahaha.

Nanas honi dari Sunpride, yang dibeli dalam keadaan utuh dan masih bersurai, memiliki karakteristik fisik lebih besar dibanding nanas lokal yang kerap ditemui di pasar atau supermarket. Dari situs Sunpride diketahui bila kematangan nanas honi dapat ditentukan dari mudahnya surai tercabut dari pangkal hanya bermodal tarikan dua jari. Saat membeli nanas honi, taksengaja ada daun surai yang tercabut dan lepas dari pangkal. Namun, daun surai itu tidak saya buang dan diposisikan seperti semula. Sempat saya panik, kok daun surainya lepas? Saya pikir nanas honinya kenapa-kenapa. Lega hati saya setelah membaca penjelasan dari Sunpride. Dengan begitu, rencana bikin selai bisa diteruskan.

Duet sama bibi, kami menyibukkan diri di dapur jam 16:30. Nanas Honi yang telah dikupas dan dibersihkan "mata"nya, diparut. Supaya marutnya nyaman dan daging nanas tidak banyak menempel pada kayu parutan, lapisi parutan dengan daun pisang. Setelah nanas terparut, tuang ke dalam wajan. Tambahkan gula pasir secukupnya, kayu manis seruas jari, dan tiga buah cengkeh. Masak hingga nanas mengental. Setelah nanas mengental dan airnya habis, angkat dan sajikan. Kekentalan nanas tergantung tujuan pembuatan selai. Kalau selai mau dijadikan isian kue kering nastar, selai nanas dibikin kental dan kering-matang. Lain halnya bila ingin dijadikan olesan roti, selainya dibuat agak lembek (basah) biar mudah dioleskan ke roti.

Selai yang dibikin dari nanas honi memiliki tekstur tidak jauh berbeda dari nanas kebanyakan. Namun, tingkat kemanisannya bisa jadi berbeda. Nanas honi pun menyimpan air lebih banyak daripada nanas lokal lainnya. Yang jelas, dengan rasanya yang manis, kita tidak usah menambahkan gula terlalu banyak. Selai home made ini ditanggung sehat, karena diolah dari buah pilihan dan tidak pakai pengawet sintetis.

Nanas honi berkadar kalsium oksalat rendah ini berkhasiat untuk mengurangi asam lambung berlebih, antiradang, peluruh kencing, membersihkan jaringan kulit mati, menghambat penggumpalan trombosit. Konsumsi nanas honi dengan cara diselai merupakan salah satu cara saja. Varian terbaru nanas, yang memiliki berat berkisar 1,5-2,3 kg ini, dapat diolah menjadi juice atau sate buah. Nanas honi juga bisa lho dicampur ke dalam masakan.  

Selai Nanas Honi Sunpride home made ini hanya bertahan sebentar di rumah karena kami berulang kali mengolesnya ke roti tawar. Alternatif menyehatkan bagi saya dan keluarga juga Anda yang enggan menyantap nasi atau ngemil berat lainnya. Satu tip buat Anda, pilih roti tawar jenis sandwich yang empuk dan tanpa tepi. Duet sandwich bread yang empuk dan nanas honi yang manisnya alami terbukti ampuh menghalau lapar yang suka datang tiba-tiba. :)



[Day #5, Sabtu, 15 Agustus 2015] 

15 Agustus 2015. Menurut Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, tanggal 15 termasuk tanggal yang lebih baik (luwih becik). Oleh sebab itu, di hari yang baik ini, saya berencana merawat diri setelah weekdays disibukkan dengan beragam aktifitas. Tubuh terasa capek dan kulit sepertinya mengalami stress karena dibawa beraktifitas di tengah cuaca yang terik, kering, dan berdebu. Ah, semoga kebaikan hari ini berdampak baik pula terhadap tubuh saya.


Jenis perawatan diri yang akan dilakukan adalah masker-an dengan bahan dasar california papaya yang telah dibeli Kamis lalu. Pada saat dibeli, pepaya yang memiliki nama tenar pepaya california tersebut belum matang benar dan hari ini, ketika dikeluarkan dari kulkas, pepaya telah menampakkan kematangannya, ditandai dengan semburat kekuningan yang mendominasi area kulit. Untuk memastikan dagingnya juga matang, selain memencetnya, saya membuat "jendela kecil" untuk mengintip bagian dalam pepaya. Dagingnya memperlihatkan warna matang khas pepaya. Sip-lah, pepaya siap dikonsumsi hari ini.

Sependek pengetahuan saya, perawatan diri akan lebih optimal bila dilakukan dari dalam dan luar.  Maka, pepaya seberat 1,160 kg itu, sebagian dijadikan buah potong, sebagian dibuat masker. Untuk pepaya potong, pepaya cukup dikupas dan dipotong sesuai ukuran pas masuk mulut. Setelah itu cuci bersih di bawah air mengalir, kemudian masukkan ke dalam container plastik, lalu dinginkan di dalam kulkas. Pepaya potong siap disantap kapan saja, baik itu sebagai camilan teman nonton televisi atau pencuci mulut.

Masker pepaya bikinan saya resepnya diambil dari website Sunpride (ada di sini). Jangan khawatir, cara membuatnya nggak ribet, kok. California Papaya yang telah dikupas, dipotong, dan dicuci bersih, sisihkan sebagian, menurut area tubuh yang hendak dimasker. Potongan pepaya tersebut diblender sampai halus menyerupai bubur lalu tuang ke mangkok. Untuk menciptakan efek dingin menyegarkan saat diaplikasikan ke kulit, sengaja saya masukkan bubur pepaya ke dalam kulkas. Kalau mau cepat dingin, masukkan sebentar ke dalam freezer. Pantau agar jangan sampai membeku. 

Menunggu bubur pepaya dingin, bersihkan wajah dengan air hangat untuk menghilangkan kotoran dan membuka pori-pori wajah. Terbukanya pori-pori wajah akan membantu proses penyerapan masker ke dalam kulit. Usai wajah dibersihkan, pasang shower cap di kepala, tissue di pakaian agar masker tidak mengenai rambut dan pakaian. Pun, lambari bantal dengan handuk supaya masker tidak mengenai tempat tidur.

Keluarkan masker dari dalam freezer. Menurut resep, bisa ditambahkan madu atau jeruk nipis. Karena di rumah hanya ada madu, maka bubur pepaya itu ditambahkan sedikit madu. Formula pepaya dan madu menghasilkan masker yang memiliki aroma pepaya lebih dominan ketimbang aroma madunya.  Warna pun tidak berubah. Mungkin karena komposisi tidak seimbang, maka pepaya lebih menguasai.

Proses selanjutnya adalah mengaplikasikan masker ke wajah, turun ke leher, badan sampai ujung kaki. Pertama kali diaplikasikan ke wajah, nyesss... dingin! Tambahkan pijat lembut dengan gerakan memutar supaya kandungan pepaya meresap sempurna ke dalam tubuh. Tunggu beberapa saat hingga mengering. Setelah itu, masker bisa "diangkat". Pengangkatan masker di area wajah dan leher memakai bantuan handuk yang telah dicelup ke air hangat. Sedangkan pada area badan hingga kaki, bisa pakai bantuan shower, sekalian mandi. 

Hasilnya luar biasa! Habis maskeran kulit terasa segar dan kesat. Pipi pun terasa kenyal. Usut punya usut, pepaya memang cocok dijadikan masker karena mengandung zat antioksidan (karoten, vitamin C & flavonoid, vitamin B, asam folat & pantotenat, kalium, magnesium, juga serat), mengencangkan payudara, melawan penyakit jantung, membuat awet muda, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta pelangsing tubuh. Satu lagi kelebihan buah tropis yang berasal dari Meksiko selatan dan utara Amerika Selata ini adalah kandungan vitamin C-nya 48 kali lipat dibanding buah apel! Mencengangkan! Wah, perjuangan kemarin Kamis terbayar impas dengan manfaat yang diterima dari pepaya.



[Day #6, Minggu, 16 Agustus 2015]

Hari Minggu menjadi hari wajib masak, sebab, di lingkungan tempat tinggalku, hari Minggu tukang sayur malah libur, penjual makanan jadi pun ikut-ikutan libur. Sepi nian. Merana kelaparan. Ya, sudah, daripada menggerutu dan menyalahkan pihak lain, lebih baik cari stok bahan makanan yang ada di rumah kemudian masak sendiri saja. Selain lebih hemat, terjamin pula kebersihan dan kesehatannya. 

Ubek-ubek kulkas, ditemukanlah tahu tofu dan nanas honi Sunpride. Cabai merah gendut juga ready. Bawang merah, bawang putih, garam, gula pasir, minyak wijen, dan minyak goreng buat menumis sudah siap semua di dapur. Okesip, bagaimana kalau bikin oseng funani? Jangan salah, oseng funani bukan masakan Jepang lho, ya, funani merupakan kependekan dari toFU mix NAnas HoNI. Dijamin semua pada bisa bikin, karena masakan ini masuk kategori early level atau for beginer recipe.

Oseng funani bahannya simple aja, sih. Bahan utama tentu saja tahu tofu dan nanas honi yang bisa dibeli di supermarket atau hipermarket. Tahu tofu dibelah jadi 2, lalu dipotong-potong. Jangan ketebalan, jangan pula ketipisan, biar bulat apik dan nggak hancur saat dimasak. Setelah tofu dipotong, singkirkan. Ambil nanas honi dan potong persegi. Singkirkan. Tumis hingga layu bawang merah dan bawang putih, lalu masukkan cabai merah gendut. Masukkan tofu. Tambahkan garam, gula, dan minyak wijen secukupnya. Tambahkan air untuk mematangkan. Masukkan irisan nanas honi Sunpride. Osreng... osreng... osreng... jadi, deh! Angkat, sajikan, dan nikmati selagi panas pakai nasi.

Menurut saya, sih, rasanya enak! Rasa nanas honi sebelum dan sesudah dimasak tidak banyak berubah sehingga nanas honi tidak kehilangan identitas sama sekali. Daging nanas honi bagian atas terasa manis, sedangkan daging bagian bawah perpaduan manis-crunchy. Nanas honi yang manis bisa ngeblend sama tofu yang lembut nan gurih dan disantap pakai nasi hangat. Sebagai teman makan siang, saya telah menyiapkan es jeruk peras. Nikmatnya duniaaa! 

Di dalam mangkok bermotif bunga, terdapat unsur warna kemerdekaan Indonesia, padahal tidak direncanakan sama sekali. Warna putih yang suci diwakili tofu, warna merah yang berarti berani diwakili cabai merah gendut. Lha, nanas honinya? Warna kuning dari nanas honi punya arti yang sama spesialnya. Warna kuning, yang termasuk ke dalam empat warna primer secara psikologis, memiliki makna positif optimis, percaya diri, memiliki harga diri, memiliki kekuatan emosional, ramah, dan kreatif. Keren, kan? 




[Day #7, Senin, 17 Agustus 2015] 

Happy Indepence Day
! Dirgahayu negeriku! Sejahtera bangsaku!


Hari ketujuh menikmati buah-buah Sunpride bertepatan dengan hari keramatnya bangsa Indonesia. Ya, tujuh puluh tahun yang lalu, proklamator kita, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada jam 10 pagi. Peristiwa yang tidak hanya bersejarah tapi juga mengubah nasib bangsa dan negara Indonesia.


Kurang afdal rasanya kalau saya, sebagai warga Indonesia hanya jadi penonton pasif. Apa yang bisa dilakukan? Sederhana, tapi ada maknanya. Hmmm... bagaimana kalau bikin Salad Merdeka? Salad yang isinya buah-buahan sumber gizi dan memiliki keanekaragaman warna yang melambangkan kebhinekaan Indonesia. Di samping itu, saya punya alasan lain kenapa pilih salad. Berawal dari sajian rumah yang kaya akan gizi akan terbentuk generasi yang terjaga kesehatannya. Generasi yang sehat pastinya akan giat bekerja dan berkarya. Dengan demikian, kualitas bangsa Indonesia mampu disejajarkan dengan sumber daya manusia dari negara-negara lainnya.

Di dalam kulkas berwarna eksterior abu-abu itu saya menemukan beberapa macam buah-buah Sunpride. Ada pisang mas, melon golden, jambu crystal, dan golden pear. Biar makin meriah, ditambahkan rock melon dan buah naga merah. Buah-buahan saya keluarkan dari kulkas, dipotong-potong, dan dicuci hingga bersih di bawah air mengalir. Khusus rock melonnya, saya kerok pakai cetakan sehingga membentuk bulatan-bulatan lucu. Setelah buah-buahan bersih, gantian keju cheddar-nya yang dipotong dadu dan diparut. Keju cheddar potong dadu akan dicampurkan ke lautan buah-buahan, sedangkan keju parutnya dijadikan sebagai topping. 

Salad merdeka memakai dressing mayonaise dan susu kental manis putih. Bibi saya usul, bagaimana jika ditambah saus sambal. Hmmm... boleh juga, sih, tapi waktu mencicipi buah-buahnya sudah manis, nanti malah rasanya aneh. Niat mencampurkan saus sambal urung. Kalau mau pedas, lebih baik ditambahkan di akhir saja, ketika salad telah disendokkan ke piring masing-masing. Maklum, beda kepala beda selera. Daripada ada yang nggak doyan terus nggak bisa ikut mencicipi, lebih baik di"netral"kan saja. Oh, iya, untuk pembuatan dressing-nya saya serahkan kepada ibu, karena beliau mahir meramu dressing salad yang yummyyyy...

Buah-buah Sunpride yang berada di dalam mangkok beling warna putih ukuran besar itu pun bermandikan dressing made in ibu. Hmmm, terbit air liur memandang gunungan salah dengan buah beragam warna. Terlihat lezat dan menggoda! Biar makannya makin asyik, saya memakai kulit rock melon yang tebal sebagai mangkoknya. Potongan dan kerokan buah yang ada di dalam mangkok beling saya pindahkan sebagian, sesuai porsi makan saya, ke dalam mangkok melon yang telah siap sedari tadi. Kemudian diberi keju dadu, dressing, dan topping.

Mangkok melon yang awalnya kosong kini dipenuhi buah-buahan dan potongan keju. Tak lupa, dressing saladnya ditambahkan dan karena saya tikus keju maka taburan kejunya harus banyak. Mari kita mak.... Hey, tunggu dulu, jangan langsung dimakan! Mau difoto dulu. Hahaha. Dan inilah hasil pemotretan yang dilakukan dalam keadaan terburu-buru tak sabar ingin segera makan salad...

Makan malam berat pakai nasi tergantikan oleh salad. Isinya yang full buah-buahan dan warna-warni bikin saya kenyang. Bukan asal kenyang lalu sejam lagi lapar. Kenyangnya kenyang sehat. Bagaimana nggak sehat kalau isinya berbobot semua. Golden pear, merupakan sumber vitamin C, vitamin K, kalium, dan tembaga yang berperan melindungi sel tubuh. Seratnya pun mampu mencegah sembelit; golden melon kaya akan vitamin C; pisang mas merupakan sumber karbohidrat dan kalium; jambu crystal kaya akan astrigent, vitamin B, vitamin B3, vitamin B6, vitamin A, serta flavonoid. 



DARI MANA BUAH-BUAHAN SUNPRIDE BERASAL?
Selama 7 hari mengonsumsi buah-buah Sunpride, sebanyak 66,7% adalah produk Sunpride (pisang mas, california papaya, melon golden, nanas honi, pisang cavendish, dan jambu crystal), sementara 33,3% (mangga, rock melon, dan buah naga merah) merupakan produk non Sunpride. Dari fisiknya, buah Sunpride bisa jadi menipu. Apakah benar, buah-buah premium itu ditanam di Indonesia? Sepintas, kok, kayaknya didatangkan dari luar negeri, apakah dari Australia, Amerika, Korea Selatan atau Tiongkok.  Namun, kenyataan berbicara, buah Sunpride yang saya konsumsi 100% buah Nusantara. Artinya, buah-buah tersebut benar-benar ditanam dan dibudidayakan di Indonesia.

Sunpride. Sepengetahuan saya, produk Sunpride hanyalah pisang cavendish. Bisa jadi lantaran pisang cavendish paling familiar dan mudah ditemui di antara buah-buah Sunpride lainnya. Ternyata, setelah membuka website Sunpride, diketahui bahwa buah-buah Sunpride bermacam-macam: apel malang, rock melon, lemon cui, golden melon, golden pear, honey melon, pepaya hawaii, conference pear truval, pepaya california, pisang mas, pisang ambon, anggur black autumn, anggur red globe, pisang barangan, anggur green thompson seedless, pisang tanduk, pisang kepok, pisang raja bulu, jeruk baby, jeruk pomelo, pisang cavendish, jeruk keprok, jeruk navel, jeruk siam madu, jeruk limau, buah naga, nanas honi, semangka, melon, kiwi, singo pear, apel, dan guava crystal.

Buah-buah Sunpride bisa dinikmati konsumen berkat daya dan upaya PT Sewu Segar Nusantara. Berdiri tahun 1995, PT Sewu Segar Nusantara menjadi perusahaan distribusi dan pemasaran buah lokal dan impor. Bekerjasama dengan Great Giant Pineapple dan Nusantara Tropical Fruit yang ahli di bidang varietas buah terbaik, PT Sewu Segar Nusantara memiliki produk sendiri berupa pisang cavendish, guava crystal, dan nanas honi. Adapun buah yang tidak bisa diproduksi sendiri di Indonesia, PT Sewu Segar Nusantara bekerjasama dengan merek-merek luar negeri seperti Zespri (Selandia Baru), Pink Lady dan Juliet Organic Apple (Perancis), dan Conference Pear (Belgia).



 





TAK KENAL MAKA TAK MAKAN: MENGENALI BUAH-BUAH SUNPRIDE

Menurut pengamatan saya, buah-buahan Sunpride memilki keunggulan dibanding buah-buah lainnya
1. Fisik: buah Sunpride dijual dalam kondisi prima dengan bentuk seragam. Dengan standar mutu yang ketat, konsumen tidak akan menjumpai buah Sunpride yang luka atau rusak.
2. Kemasan: buah Sunpride dikemas apik untuk menjaga buah tetap higinis dan tidak rusak sampai ke tangan konsumen. Kemasan buah yang rapi menjadikan buah Sunpride tidak rusak sepanjang perjalanan sehingga layak dikonsumsi. Di samping itu pula, dengan kemasan yang menarik, buah Sunpride cocok dijadikan suguhan, hantaran, maupun buah tangan.
3. Aroma khas buah segar: buah Sunpride memiliki aroma buah matang yang khas. Selama saya membeli buah Sunpride, sama sekali tidak tercium aroma terlalu matang atau menjumpai buah dirubung binatang buah-buahan.


Bagaimana mengenali buah-buah Sunpride? Nah, ini ada hubungan dengan pengalaman pribadi saya kemarin. Sebelum belanja buah-buah Sunpride, saya sempat bertanya-tanya pada diri sendiri, bagaimana cara mengenali bahwa buah-buahan yang saya temukan di supermarket atau hipermarket nantinya adalah produk Sunpride? Nggak mau bohong, saya sempat khawatir akan membeli produk yang salah. Oleh sebab itu, saya harus mengantongi jawaban pasti sebagai pegangan berburu buah-buah Sunpride.

Nekad, saya pun memberanikan diri menghubungi Bapak Sunaya Widodo, Branch Manager Sunpride Yogyakarta melalui e-mail. Dari beliau diketahui bahwa semua produk Sunpride yang dijual di pasar Yogyakarta memiliki identitas berupa stiker label "Sunpride" dan "Sunfresh". Karena yang menginformasikan dari pihak Sunpride sendiri, maka 100% saya percaya. Kedua label itulah yang pertama kali dicari saat memilah dan memilih buah.
* Singo pear Sunpride: dibracket berbahan styrofoam, dibungkus plastik hingga membungkus selutuh tubuh buah, dilabeli Sunpride, singo pear, dan super sweet pear
* Nanas honi: dijual utuh lengkap dengan surai, bagian tubuh buah dibracket styrofoam, dan dikalungi label Sunpride. Nanas honi kupas dikemas di dalam wadah styrofoam putih, diwrap, dan dikalungi label Sunpride sama seperti kalung label nanas utuh.
* Pisang cavendish: dijual bergerombol isi 3, 4, 5, 6, 7 (tersedia pula cavendish single), diikat biar tidak ada yang lepas, dilabeli Sunpride
* Pisang mas: dilabeli Sunpride
* Guava crystal: dibracket, dibungkus plastik, dilabeli Sunpride, dan dilabeli seedless, dilabeli 100% buah Nusantara
* Golden melon: dilabeli Sunpride, dilabeli golden melon
* Rock melon: dilabeli Sunpride, dilabeli rock melon
* California papaya: dilabeli Sunpride, dilabeli california papaya






Beli buah Sunpride di mana saja? Dalam situs resminya, Sunpride telah mencantumkan store location guna menginformasikan bila produknya dapat dibeli di suatu lokasi pembelanjaan. Sedangkan berdasarkan pengalaman saya kemarin, bagi yang berdomisili di Yogyakarta, Anda bisa menemukan buah Sunpride di
1. Supermarket: 
a. Superindo Jalan Sultan Agung: nanas honi, pisang cavendish, rock melon, guava crystal (Sunpride dan Sunfresh)
b. Superindo Jalan Jenderal Sudirman: guava crystal, pisang cavendish, nanas honi
2. Hipermarket: 
a. Carrefour: guava crystal, singo pear, pisang cavendish, golden pear, nanas honi
b. Hypermart: singo pear, nanas honi, pisang cavendish, california papaya, golden melon, rock melon, pisang mas, guava crystal

Catatan:
* ketersediaan bersifat kondisional, menurut waktu kunjungan
KESAN-KESAN ATAS 7 HARI MENGONSUMSI BUAH SUNPRIDE

"Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Peribahasa itulah yang menggambarkan perjuangan saya mengumpulkan buah-buah Sunpride selama 7 hari kemarin. Nyaris tiap hari saya harus menelepon ke sana ke mari, berpindah dari satu supermarket ke supermarket yang lain dengan naik kendaraan umum atau jalan kaki dengan harapan bisa membawa pulang buah Sunpride.


Mengikuti tantangan 7 hari Sunpride bagai ikut blind game. Saya, sebagai peserta tunggal, telah diberi tahu clue-clue-nya, tapi lokasi target bisa berubah sewaktu-waktu. Sesuatu yang tak terkira sebelumnya, seperti stok habis atau bukan buah Sunpride, ditemui di sepanjang perjalanan menuju garis finish. Makanya, jadwal yang telah tersusun kadang acakadut gara-gara clue-nya ada yang nggak ketemu, contohnya jeruk baby atau pepaya hawaii. Jadilah tiap pagi, saya menelepon ke sana ke mari, menanyakan buah Sunpride yang tersedia saat ini apa. Dalam waktu yang relatif mepet, saya harus bisa merombak menu dan menjemput buah saat itu juga. Capai iya, tapi kalau dipikir-pikir, it's more than fun. It is challenging banget!


Sekadar bocoran rombakan menu, semula, manggo soya smoothies dijadwalkan mau dinikmati pas weekend saja, sedangkan hari kedua saya mau ngerujak. Rencana berubah total manakala ada buah-buah yang mau dirujak susah dijangkau. Waktu membeli jambu crystal, saya menemui gunungan rock melon. Namun, saya tidak yakin rock melon tersebut merupakan produk Sunpride. Takut salah beli, saya pun hanya membeli separuh saja. Keraguan saya terjawab manakala mendapatkan informasi bahwa Sunpride selalu melabeli buahnya. Hahaha. Rugi bandar, nih! Hahaha. Lalu, dikemanakan rock melon salah beli itu? Ya, tetap dimakan lah. A Fruitaholic pantang banget menyingkirkan buah-buahan.

Tuntas menjawab tantangan 7 hari mengonsumsi buah-buah Sunpride, saya merenung, flashback, apa saja yang telah didapatkan selama 7 hari tersebut. Hasil flashback terangkum menjadi kesan-kesan yang pastinya valuable bagi saya.  

1. Mengonsumsi buah Sunpride sama halnya dengan investasi kesehatan
Selama tujuh hari berturut-turut, saya dan keluarga, dengan segala keterbatasan yang ada telah mengonsumsi buah beraneka warna sesuai anjuran pakar. Buah Sunpride memang mahal, tetapi mengonsumsi buah-buah dan membiarkannya masuk ke dalam perut sama halnya menyimpan harta berharga bagi masa depan. Semoga buah-buah Sunpride menjadikan kami senantiasa terjaga kesehatannya.
2. Mendekatkan antar anggota keluarga
Program My 7 Days Fruits Diary bersama buah Sunpride belum tentu sukses bila tidak didukung keluarga. Adalah ibu dan bibi yang telah membantu saya untuk mewujudkan sajian berbasis buah-buah Sunpride. Dari mereka berdua pula, pada akhirnya saya belajar bagaimana cara mengolah jambu crystal menjadi setup yang enak, membuat nanas honi menjadi selai, dan masak oseng funani. Ilmu yang didapat hari ini menjadi modal berharga saat berumahtangga nanti.
3. Menikmati buah dengan cara asyik terbukti meningkatkan kesukaan mengonsumsi buah 
Sajian yang dibuat dari buah cepat habis. Keluarga saya sangat menyukai buah olahan yang dibuat selama 7 hari kemarin. Setup buah habis dalam hitungan jam, selai nanas honi tandas, juice melon-susu dinikmati berulang kali, dan salad buah jadi rebutan. Tidak hanya dinikmati anggota keluarga saja, olahan buah Sunpride disuguhnya kepada Oom yang sedang berkunjung di rumah.
4. Memenuhi tantangan Sunpride, saya bak pelari yang tengah mengejar kebaikan buah-buahan Sunpride. Tantangan hari per hari mampu saya takklukan. Imbalannya tentu lebih dari mendapat buah yang dicari. Selama 7 hari ini saya belajar tentang kegigihan dan usaha yang tak terputus. 
5. Mengenali buah sambil menikmati
Tak kenal maka tak sayang. Kita harus mengenali agar menyayangi buah-buahan. Bagaimana cara mengenali manfaat buah-buahan? Ya dengan mengonsumsi sambil mencari tahu kandungan gizinya. 
6. Berburu Sunpride sama halnya dengan memaksa saya gerak badan
Bagaimana badan nggak gerak kalau pagi-pagi udah "terbang" ke pasar demi membeli serai, jalan kaki ke supermarket untuk beli buah-buahan sampai keringat bercucuran. Blessing in disguise, sih, buat kebaikan diri sendiri karena selama ini berada di zona aman dan nyaman karena terbiasa mengandalkan Lik Slamet, sang tukang sayur langganan.  
7. Pengalaman baru
Ngobrol dengan bunda-bunda cantik di kios buah tentang nanas honi padahal belum kenal sama sekali terjadi pada saat saya tengah menanti giliran membeli golden pear Sunpride. Tiba-tiba saja seorang bunda menyapa saya karena melihat surai nanas honi menyembul dari balik kantong kresek. Kemudian beliau cerita dengan penuh antusias kalau habis membeli nanas honi di supermarket daerah Menukan. Efek yang ditimbulkan buah sampai menyentuh ranah sosial. Kami yang belum pernah bersua sebelumnya, tak tahu siapa nama kami masing-masing, tiba-tiba terkoneksi hanya berperantarakan nanas honi. What a great giant pinneaple effect!

Pengalaman lainnya tentu saja pengalaman mengonsumsi buah-buah Sunpride. Sehari-hari terbiasa dengan buah lokal yang dibeli di pasar atau yang dibawa oleh tukang sayur, menjadi kejutan bagi saya dan keluarga ketika menikmati buah Sunpride yang manis, renyah, dan memiliki kadar air lebih banyak dari buah yang biasa dimakan. 


Tujuh hari memang waktu yang sebentar. Namun, kalau kita mampu, mengapa  mengonsumsi buah tidak dilanjutkan dan menjadi kebiasaan yang menyehatkan? Betul tidak? #livingfunandhealthy? Why not?

#100persenbuahnusantara #fruitsummit2015 #livingfunandhealthy  


Referensi

http://www.agrobisnisinfo.com/2015/07/cengkeh-manfaat-cengkeh-dan-minyak.html. 22 Agustus 2015. 12:54
http://www.colour-affects.co.uk/psychological-properties-of-colours. 21 Agustus 2015. 21:43
http://www.sunpride.co.id/category/kesehatan/. 21 Agustus 2015. 20:09
http://www.sunpride.co.id/manfaat-mengonsumsi-semangka-di-masa-kehamilan/. 21 Agustus 2015. 19:34
http://www.sunpride.co.id/category/ibu-dan-anak/. 21 Agustus 2015. 19:31
http://www.sunpride.co.id/indonesia/. 21 Agustus 2015. 13:12
http://www.sunpride.co.id/indonesia/. 21 Agustus 2015. 13:10
http://www.sunpride.co.id/indonesia/. 21 Agustus 2015. 13:07
http://www.sunpride.co.id/produk/guava-crystal/. 21 Agustus 2015. 13:05
http://www.sunpride.co.id/produk/nanas/. 21 Agustus 2015. 13:00
http://www.sunpride.co.id/produk/pisang-cavendish/. 21 Agustus 2015. 12:56
http://www.sunpride.co.id/produk/pisang-mas/. 21 Agustus 2015. 12:53
http://www.sunpride.co.id/produk/pepaya-california/. 21 Agustus 2015. 12:51
http://www.sunpride.co.id/produk/golden-pear/. 21 Agustus 2015. 12:34
http://www.sunpride.co.id/produk/golden-melon/. 21 Agustus 2015. 12:31
http://www.sunpride.co.id/produk/rock-melon/. 21 Agustus 2015. 12:27
http://www.sunpride.co.id/produk2/alasan-crystal-guava-jadi-kudapan-sehat/. 21 Agustus 2015. 12:23
http://www.sunpride.co.id/produk2/ini-dia-golden-pear/. 21 Agustus 2015. 12:19
http://www.gramedia.com/. 20 Agustus 2015. 18:37
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/perkaya-konsumsi-buah-di-hari-buah-internasional. 20 Agustus 2015. 19:43
http://www.thewoodstockfruitfestival.com/. 20 Agustus 2015. 19:56
http://www.raw-fruit-festival.net/festival.php. 20 Agustus 2015. 20:01
http://idioms.thefreedictionary.com/the+apple+of+eye. 20 Agustus 2015. 20:30
http://historia.id/budaya/sang-pelukis-rakyat. 19 Agustus 2015. 21:44
http://www.chinaonlinemuseum.com/painting-history.php. 19 Agustus 2015. 21:42
http://www.conservapedia.com/Famous_Still_Life_Paintings. 19 Agustus 2015. 21:38
http://www.metmuseum.org/toah/hd/food/hd_food.htm. 19 Agustus 2015. 21:31
https://en.wikipedia.org/wiki/Bodeg%C3%B3n. 19 Agustus 2015. 21:25
https://en.wikipedia.org/wiki/Still_life#cite_note-28. 19 Agustus 2015. 21:22
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/perkaya-konsumsi-buah-di-hari-buah-internasional

Badudu, J.S. 1982. Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia. Cetakan ke-9. Bandung: CV Pustaka Prima
Chaer, Abdul. 2002. Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia. Cetakan Pertama. Jakarta: Rineka Cipta 
Pusposaputro, Sarwono (Peny). Kamus Peribahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harya. 2001. Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Cap-capan kaping 54. Solo: CV Buana Raya

Ruhe, Edzard. 2015. Eco Food-Wise Waste. SCP 

Kompas, Kamis, 13 Agustus 2015
National Geographic Indonesia. Agustus 2015

Trubus. 548. Juli 2015/XLVI
Trubus. 547. Juni 2015/XLVI
Ayahbunda. No. 13 29 Juni-12 Juli 2015
Femina. No. 29/XLIII 25-31 Juli 2015
Femina. No. 24/XLIII 13-19 Juni 2015
Femina. No. 23/XLIII 6-12 Juni 2015
NOVA. 1352/XXVI 20-26 Januari 2014


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Writing Competition & Fruit Summit 2015 MY 7-DAYS FRUITS DIARY-SUNPRIDE