Adakah Namaku di dalam Doamu, Ibu?

3 comments
Suatu ketika, saya lagi terserang penyakit sensi. Apalagi kalau bukan urusan hati yang tertohok akibat kalah sukses sama anak orang yang usianya beberapa tahun di bawah saya. Dia aja udah sukses begitu, bagaimana dengan saya? Dan, akibatnya, saya mengungkit-ungkit kekurangan diri lalu menjalar menyalahkan orang lain yang terkesan tidak peduli akan nasib saya.

Saya hanya mendengar dari mulut seseorang bahwa ibu si anak itu demikian tekun mendoakan putrinya. Si ibu rajin mengikuti misa harian di gereja yang jaraknya bisa banget ditempuh dengan jalan kaki. Tuhan berkehendak dan jadilah: anaknya lulus kuliah dan lekas mendapat pekerjaan.

Bukannya turut senang mendengar kabar menggembirakan seperti itu, sebaliknya, hati ini meradang dibuatnya. Iri sama si ibu sekaligus si anak. Kenapa bukan saya yang didoakan? Kenapa bukan karena saya yang menguatkan langkah ibu menuju gereja setiap hari? Kenapa bukan saya yang mendapat pekerjaan tetap? Kenapa bukan kita yang menuliskan kalimat syukur atas perolehan ladang karya usai seremoni berjudul wisuda?

Sebenarnya, adakah namaku di dalam doamu, Bu? Apakah engkau mendoakan aku agar lekas beroleh pekerjaan?

***

Di suatu pagi...

Ibu bercerita tentang homili romo yang disampaikan pada misa lingkungan edisi spesial bulan arwah...

Ada satu kesaksian seseorang yang sakit berat dan didatangi sosok-sosok hitam (bertubuh) tinggi besar. Ketakutan ia dibuatnya. Hingga kemudian, datang sosok-sosok putih yang menghalau sosok-sosok hitam tadi. Orang sakit itu pun bertanya siapa gerangan. Sosok putih itu pun menjawab bahwa dirinya adalah jiwa-jiwa yang pernah didoakan sehingga bebas dari api penyucian.

Usai berbagi cerita, ibu menambahkan bahwa dirinya pun tak pernah absen mendoakan teman-temannya yang terlebih dahulu dipanggil Tuhan. Siapa saja? Ada beberapa nama tersebutlah. Di antara mereka yang selalu didoakan ibu, di masa hidupnya ada yang memiliki keyakinan yang berbeda.

"Tidak perlu diceritakan ke siapa-siapa," tukas ibu dalam bahasa Jawa ngoko.

"Iya, berdoa, kan, hal yang bersifat pribadi. Privat. Nggak perlulah diceritakan ke siapa-siapa," timpalku.

***
Kena saya!

Ketika menyangsikan orang lain, tak perlu waktu lama bagi Tuhan untuk memperingatkan saya.

Bahwa doa itu bersifat pribadi.
Bahwa doa itu privat.
Bahwa (isi) doa tidak perlu diceritakan, disebarluaskan, diwartakan.

"Hei, aku sudah berdoa buat kamu lho!"

Zzzzzz

Mea Maxima Culpa

1 comment
Duh, Gusti, aku tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Pikulan ini teramat berat
Buatku sakit, pedih, sedih, susah melangkah
   hingga 'ku hanya berulangkali menangis
Air mata tak lagi menitik, tapi menderasi wajah dan tubuh

Sesak rasanya sampai 'ku tak tahu harus berbilang apa lagi?
Berkali kumengeluh, tetapi Engkau terus saja berkata, "Kamu masih sanggup."
Ingin terus berdekatan denganMu dan mencurahkan seluruh rasa yang ada di diriku
Aku lelah...

Duh, Gusti, tiada mampu melupakan segala yang pernah terjadi
Tidak mudah kuhapus yang datang dan biarkan pergi tanpa kaukehendaki
Seakan sgalanya tuntas Kautulis dengan tinta abadi
KaryaMu membentuk benang bundet di dalam kepalaku

Inginku, segera mengemasi lalu mengembalikan kepadaMu. Dan lahirlah kelegaan.
   -Horayyyy! Hidupku kembali damai, aman, tenang, sentosa-
Aku tak sanggup berlama-lama lagi. Tak sanggup. Tak bisa... Lekaslah semua berlalu daripadaku...
Tersingkirlah yang menjadikanku terluka

Duh, Gusti, bila Kaubiarkan lebih lama lagi, tidak hanya menyakitiku, tidak cuma melukaiku,
   tapi juga 'kan mendorongku ke dalam dosa. MEA MAXIMA CULPA
Duh, Gusti, cukupkan sampai di sini, ya... Sampun cekap
Kumohon dengan sangat dan sepenuh hati

Yogyakarta, 24 November 2015

Pagi, Cinta, dan Kamu

Leave a Comment
Hadirmu di kepagian, tatkala hari masih sunyi dan gelap menaungi isi bumi
Buatku tak mengerti apa yang musti diperbuat
Apa kataku? Hanyalah diam, sementara engkau terus lanjutkan langkah dengan tenang
Kepada Sang Khalik hanya 'ku mampu berseru. Meski Lirih.
   "Bebaskan diriku dari berjuta rasa terkutuk ini!"

Aku tak menghendakinya. Sangat!
Marahku meluap. Kalutku menyeruak! Menghentak denyut kehidupan nan datar
Namun, manakala pelukmu hangatkan jiwa padamlah seketika yang murka
Berganti embus angin damai yang memenuhi kosongnya hati yang tertinggalkan

Belajar aku darimu. Menimba air kebijaksanaan lewat perilakumu
Bahwa cinta akan hadir di kala tiada duga, tanpa permisi, menawarkan tantangan dan kejujuran, serta kerumitan
Kau... Buatku merelakan pagiku terenggut olehmu
Kau tawarkan padaku damai 'tuk tenangkan jiwaku

Tak habis kupahami, bahkan hingga hari ini
Kedua matamu... tatapan teduhmu seolah menawarkan cinta kasih
   yang takperlu kubalas dengan apa pun.
Lalu... Sungguhku 'ku mengasihimu? Ataukah hanyalah pelepas sepi belaka?

Sesungguhnya takmampu kunikmati s'gala yang terjadi
'Ku ingin menjauh darimu
   dan kau 'kan menjawabnya, "Mampu?"
   dan seketika 'ku membisu
"Mana mungkin kugantung asa di dirimu? Jelaslah sudah kumelekat padamu. Butuh waktu tak sebentar untuk sekadar lepas tanpa melupakanmu."

Terpikat hatiku kepadamu, lelakiku... 

Yogyakarta, 17 April 2016
Di suatu pagi yang kurindukan

Selamat Pagi, Mas

Leave a Comment
Selamat pagi, Mas
Awal pekan kembali datang
Berkat Tuhan tiada pantang menjadi pangan harian
Penyembuh luka, penawar hampa, pembasuh keringnya jiwa
Bukti atas cinta Yang Kuasa

Selamat pagi, Mas
Dalam doaku, kusampaikan:
Terima kasih telah menyebut namaku
Terima kasih telah membagi senyum tulusmu
Terima kasih telah melempar tatap kasihmu
   dan
Terima kasih telah menjawab tiap tanyaku

Selamat pagi, Mas
Tiada terhingga terima kasih terucapkan
Namun, biarkan kutaruh satu harapan:
Tatap kasihmu bukanlah tatap merindu. Bukan pula tatap yang lahir dari kedalaman hati lelakimu.
Tatap mata yang mengawal kita pada pencobaan, menghampiri dosa, dan berharapan semu.

Mas, bilaku boleh meminta
Berikan kasihmu kepada dia yang lebih dulu mengasihimu
Yang hidupnya pernah dikhianati, rela menderita sampai mati untukmu
Dia lebih pantas menerimanya darimu
Bukan aku...

Yogyakarta, 18 April 2016

Berkah Dalem

Leave a Comment
Cahaya kecil harapan imanku
Berjalanlah bersamaku hingga kusambut hidup baruku nanti
  dan selama-lamanya
Sembah syukur kau izinkan 'ku belajar mencinta
Paham utuh tahu kubutuh uluran tangan kasihmu
Kuingin ada untukmu senantiasa
  raga dan jiwa
 
Berkah Dalem Gusti...

Yogyakarta, 2 Maret 2016
Aula Pastoran Gereja St. Antonius Padua Kotabaru

Kepada Pijar Api Kecil

Leave a Comment
Selamat ulang tahun, pijar api kecil
Dirimu hadir ke dunia sebagai harapan
Mereka yang berlabuh kepada sang gembala agung
Betapa berharga hidupmu... Teramat mulia imamatmu

Terberkatilah engkau dalam doa, laku, dan talenta
Bebaskan dirimu dari segala yang membelenggu
Tanpa ragu, jadilah pribadi lugu di muka Allah
Bersejati dalam kemanusiaanmu

Jangan pernah menjadi seorang yang lain
    yang bahkan asing bagi dirimu sendiri
Jangan pernah merasa sepi
Berdamailah dengan sunyi dan sendiri
Yakinlah pengorbananmu 'kan berbuah manis
Tidak untuk hari ini, tapi esok nanti

Terima kasih telah mengajariku untuk menghargai hidup
Terima kasih telah bangkitkan semangatku yang tertindih gelapnya rupa kehidupan
Terima kasih telah berbagi berkat serta nasihat
Kuingin dapatkannya setiap saat 
Bila saatnya tiba, 'kan kuraih tanganmu dan kucium penuh takzim

Selamat ulang tahun, pijar api kecil
Seekor domba haturkan doa sederhana: Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan
Terimalah...
Dari yang mengasihimu
Selalu...
Salam bagimu imamku...


Yogyakarta, 2 Maret 2016
Aula Pastoran Gereja St. Antonius Padua Kotabaru