Pagi, Cinta, dan Kamu

Leave a Comment
Hadirmu di kepagian, tatkala hari masih sunyi dan gelap menaungi isi bumi
Buatku tak mengerti apa yang musti diperbuat
Apa kataku? Hanyalah diam, sementara engkau terus lanjutkan langkah dengan tenang
Kepada Sang Khalik hanya 'ku mampu berseru. Meski Lirih.
   "Bebaskan diriku dari berjuta rasa terkutuk ini!"

Aku tak menghendakinya. Sangat!
Marahku meluap. Kalutku menyeruak! Menghentak denyut kehidupan nan datar
Namun, manakala pelukmu hangatkan jiwa padamlah seketika yang murka
Berganti embus angin damai yang memenuhi kosongnya hati yang tertinggalkan

Belajar aku darimu. Menimba air kebijaksanaan lewat perilakumu
Bahwa cinta akan hadir di kala tiada duga, tanpa permisi, menawarkan tantangan dan kejujuran, serta kerumitan
Kau... Buatku merelakan pagiku terenggut olehmu
Kau tawarkan padaku damai 'tuk tenangkan jiwaku

Tak habis kupahami, bahkan hingga hari ini
Kedua matamu... tatapan teduhmu seolah menawarkan cinta kasih
   yang takperlu kubalas dengan apa pun.
Lalu... Sungguhku 'ku mengasihimu? Ataukah hanyalah pelepas sepi belaka?

Sesungguhnya takmampu kunikmati s'gala yang terjadi
'Ku ingin menjauh darimu
   dan kau 'kan menjawabnya, "Mampu?"
   dan seketika 'ku membisu
"Mana mungkin kugantung asa di dirimu? Jelaslah sudah kumelekat padamu. Butuh waktu tak sebentar untuk sekadar lepas tanpa melupakanmu."

Terpikat hatiku kepadamu, lelakiku... 

Yogyakarta, 17 April 2016
Di suatu pagi yang kurindukan

0 komentar:

Posting Komentar